Madiun (beritajatim.com) – Jawa Timur adalah penghasil kopi kedua terbesar di Indonesia. Kebanyakan kopi dibudidayakan oleh perkebunan rakyat salah satunya di Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi di Jawa Timur. Namun, potensi besar komoditas ini belum sepenuhnya tergali akibat sejumlah kendala dalam proses produksi.
Hal ini diungkap oleh Dr. Ir. Pawana Nur Indah, M.Si dosen Agribisnis Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur usai melakukan studi dan pengabdian masyarakat di Madiun. Menurutnya sebagian besar petani kopi di Kecamatan Kare masih mengandalkan metode tradisional dalam memanen dan mengolah kopi. Akibatnya, kualitas kopi yang dihasilkan cenderung rendah dan tak bisa mengejar permintaan pasar yang kadang tinggi.
Pawana bersama dua dosen lainnya yakni Ir Sri Widayanti MP dan Dr Gyska Indah Harya SP MAgr juga melihat kualitas kopi tergolong rendah karena umumnya petani memetik buah secara asalan dan mengolahnya secara kering.
Tak hanya itu saja sebagian besar petani kopi di Kecamatan Kare masih mengandalkan metode tradisional dalam memanen dan mengolah kopi.
“Petani seringkali memetik buah kopi secara sembarangan dan mengolahnya secara kering. Padahal, dengan menerapkan teknik petik merah dan pengolahan basah, kualitas kopi bisa ditingkatkan secara signifikan,” ujar Pawana.
Ketiga dosen Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jatim ini juga menemukan peluang dan potensi hilirisasi kopi di Kecamatan Kare sangat besar. Dengan luas lahan pertanian yang mencapai 86,75%, wilayah ini memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk pengembangan industri kopi.
Menurut Sri Widayanti, beberapa petani di Desa Kare telah mulai melakukan upaya hilirisasi dengan menggunakan mesin pengolahan kopi (TTG) yang dikembangkan salah seorang petani bernama Sumadi hingga menghasilkan bubuk kopi siap konsumsi. Langkah ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya meningkatkan nilai tambah produk kopi.
Semua tak terlepas dari campur tangan pemerintah Kabupaten Madiun bersama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA) telah berupaya membina petani kopi di Kecamatan Kare. Sosialisasi mengenai teknik budidaya dan pengolahan kopi yang baik terus dilakukan.
“Kami berharap dengan adanya pembinaan dan dukungan dari berbagai pihak, kualitas kopi dari Kecamatan Kare dapat terus ditingkatkan sehingga mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” kata Sri.
Tantangan yang Harus Diatasi
Ketiga dosen UPN “Veteran” Jawa Timur ini pun menemukan tantangan lain selain masalah teknik budidaya dan pengolahan, petani kopi di Kecamatan Kare juga menghadapi sejumlah tantangan lain, seperti:
Akses pasar yang kurang dimana petani kesulitan memasarkan produk kopinya dengan harga yang menguntungkan.
“Tantangan lainnya adalah keterbatasan akses terhadap modal menjadi kendala dalam pengembangan usaha. Hingga Penggunaan teknologi yang masih terbatas menghambat peningkatan produktivitas,” tambah Gyska.
Menurut Gyska, untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan beberapa langkah strategis, antara lain Peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti pelatihan dan penyuluhan, petani perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
“Pembangunan infrastruktur jalan, irigasi, dan fasilitas pengolahan kopi akan mendukung peningkatan produksi dan distribusi juga perlu dilakukan. Serta Pembentukan kelompok tani sehingga petani dapat memperoleh akses yang lebih mudah terhadap informasi, teknologi, dan pasar dan kerjasama dengan puhak swasta harus kuat,” tambah Pawana.[rea/aje]






