Mojokerto (beritajatim.com) – Pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Pos Observasi Bulan (POB) Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, belum membuahkan hasil. Hilal dilaporkan tidak terlihat karena masih berada di bawah ufuk.
Rukyatul hilal tersebut dilakukan oleh tim Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nadhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mojokerto di lokasi yang berada pada ketinggian sekitar 70 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan koordinat lintang -7° 31′ 46.7″ LS dan bujur 112° 24′ 32.5″ BT.
Sejak sore hari, tim perukyat yang berjumlah sekitar 10 orang telah bersiaga menggunakan sejumlah peralatan, di antaranya teleskop, gawang lokasi, serta teodolit untuk memastikan akurasi arah dan posisi hilal. Kondisi cuaca terpantau cerah berawan hingga mendung, namun tidak menjadi faktor utama gagalnya pengamatan.
Sementara itu, Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Mojokerto, Syamsudin menjelaskan bahwa secara astronomis posisi hilal memang belum memenuhi kriteria visibilitas. Menurutnya, tinggi hilal minimal yang disyaratkan adalah 3 derajat di atas ufuk. Namun saat pengamatan, tinggi hilal di Mojokerto tercatat minus 2 derajat 00 menit 41 detik.
“Karena ijtima baru terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, maka saat magrib umur hilal masih minus 1 jam 6 menit. Artinya, secara posisi memang belum memungkinkan untuk dirukyat,” jelasnya.
Hasil rukyatul hilal dari Mojokerto selanjutnya dilaporkan ke Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur dan diteruskan ke Kementerian Agama RI sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan tahun ini. [tin/but]







