Surabaya (beritajatim.com) – Liga Jerman bisa dikatakan telah menjadi kawah candra dimuka. Menjadi tempat pendidikan bukan hanya bagi pemain-pemain muda untuk mematangkan permainan dan visi. Juga bagi para pelatih-pelatih muda membentuk filosofi mereka dalam sepakbola, dan membangun reputasi.
Filosofi sepakbola Jerman percaya jika pemikiran pelatih-pelatih muda dapat memberikan elemen baru bagi setiap klub. Bahkan tidak sedikit klub Bundesliga yang memberi kepercayaan kursi pelatih pada lulusan Hennes Weisweiler Academy ini.
Ditinjau segi finansial, pelatih muda dengan minim pengalaman lebih murah gajinya dibandingkan pelatih top. Namun dari segi kualitas tidak jauh berbeda. Hal inilah yang mungkin mengilhami klub-klub Bundesliga di musim 2016/17. Tahun itu ada sebanyak 12 pelatih dari total 18 tim Bundesliga memakai jasa pelatih yang belum pernah merasakan atmosfer kasta tertinggi.
Sejak tahun tahun 2000, sepakbola Jerman memang mengalami berkembang pesat. Tidak hanya dari segi klub maupun timnas, tetapi juga dari segi pelatih. Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak pelatih berkebangsaan Jerman yang meraih kesuksesan, baik di negara sendiri maupun di luar negeri.
Ada nama Jupp Heynckes, Joachim Loew, Jurgen Klopp, Hansi Flick, juga Thomas Tuchel. Semua pelatih itu pernah meraih trofi prestisius, seperti Liga Champions juga Piala Dunia.
Lalu apa yang menjadi rahasia pelatih-pelatih Jerman berhasil sukses dalam beberapa tahun ke belakang ? Rahasia itu terletak Hennes Weisweiler Academy yang merupakan sekolah pelatih di Jerman.
Sekolah tersebut berdiri pada tahun 1947 atau 16 tahun sebelum Jerman membentuk Bundesliga. Sekolah itu bukanlah sekolah pelatih yang sembarangan. Sebab sejak 2008, UEFA menganggap bahwa lulusan sekolah ini setara dengan lisensi UEFA Pro, atau lisensi kepelatihan tertinggi di Eropa.
Program yang ditawarkan akademi ini pun sangat komplek. Mulai dari membimbing pemain muda, mengembangkan taktik, menjaga psikologis tim, membaca permainan lawan, dan masih banyak lagi. DFB sebagai asosiasi sepakbola Jerman tidak membatasi peserta sekolah tersebut berasal dari Jerman.
Siapa saja boleh mendaftarkan diri asalkan memenuhi sejumlah persyaratan yang diberikan. Syarat agar bisa masuk di akademi itu adalah minimal berusia 24 tahun, fasih berbahasa Inggris, memiliki lisensi UEFA A, eks pemain di kasta tertinggi, atau terlibat dalam organisasi sepakbola nasional.
Pada setiap tahun ada ratusan hingga ribuan pelamar yang masuk ke sekolah itu. Namun Hennes Weisweiler Academy akan menyaring ketat jumlah pesertanya. Hingga, akan mengerucut menjadi 24 orang saja. Sepenggal kisah itulah yang turut melahirkan pelatih hebat asal Jerman hingga banyak digunakan dunia saat ini. [dan/tur]






