Rabu, 6 April 1977. Mochtar Lubis berdiri di panggung Taman Ismail Marzuki, membacakan naskah pidato kebudayaan tentang orang Indonesia. Kita tahu dia adalah jurnalis terhormat yang menyerukan jurnalisme sebagai seruan jihad melawan korupsi dan ketidakadilan.
Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto, sempat mendatangi kantor Harian Kompas di Palmerah Selatan untuk memprotes ceramah Mochtar Lubis yang menyentuh aspek feodalisme pada diri manusia Indonesia.
Margono mengaitkan feodalisme dengan aristokrasi. “Aristokrasi jangan hanya dilihat segi negatifnya. Aristokrasi menunjuk pula ke sikap dan budi mulia,” tulis Jakob Oetama dalam pengantar buku ‘Manusia Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia pada 2001 dan 2012.
Ada enam sifat manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis: munafik atau hipokrit, enggan dan segan bertanggungjawab atas perbuatannya, bersikap dan berperilaku feodal, percaya takhayul, berbakat seni, dan lemah watak atau karaktemya.
Sejak itu, selama puluhan tahun, setiap kali melihat perilaku memalukan pejabat pemerintah, kita teringat pada tesis Mochtar Lubis ini. Kita meyakini bahwa enam sifat itu telah melakat tak ubahnya takdir.
Sampai kemudian kita melihat video Choirum Hening Dzikrillah meminta maaf sembari sesenggukan di akun Instagramnya.
“Dengan penuh penyesalan, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat, kepada semua pihak yang merasa terganggu, dan terutama kepada Bapak Wali Kota yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada saya,” tulisnya di akun tersebut.
Hening adalah admin akun media sosial Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Tugas perempuan kelahiran Surabaya pada 1995 itu adalah mengunggah semua aktivitas Eri di media sosial.
Hening berada di balik layar. Jauh dari sorotan. Bekerja dalam sunyi dan keheningan, persis seperti namanya. Tanpa puja-puji: membangun panggung untuk seorang pemimpin termuda yang pernah dimiliki Kota Surabaya.
Namun keheningan itu berubah menjadi kegaduhan karena sebuah kecerobohan. Di tengah jeda siaran langsung di akun Instagram Eri Cahyadi, percakapan Hening dengan seorang kawannya memunculkan spekulasi soal kinerja seorang wali kota.
“Lek kayak gitu, Mat. Ini kan videone bagus, simpen dulu ae. Nek besok-besok hujan bisa dipakai, epok-epok keliling,” kata Hening dalam rekaman tersebut.
Hening tidak tahu jika suaranya masih tersambung ke siaran langsung. Maka potongan rekaman pernyataan itu pun viral di media sosial. Spekulasi berkembang: kegiatan Eri Cahyadi di lapangan hanya untuk kebutuhan konten.
Eri Cahyadi sendiri tidak tahu soal percakapan dan kegaduhan yang ditimbulkan potongan video percakapan Hening. Namun Hening tahu, kesilapannya telah melukai orang yang mempercayainya. Maka dia memilih untuk mengambil tanggung jawab penuh.
“Sebagai bentuk tanggung jawab moral, saya menyampaikan pengunduran diri saya dengan penuh kesadaran dan penyesalan,” katanya.
Dalam praktik konten media sosial, menyimpan video footage atau potongan-potongan video untuk ditampilkan kembali dalam momen bertema sama sebenarnya adalah hal lazim.
Video footage digunakan untuk mengingatkan memori publik tentang peristiwa atau momen yang sama yang terjadi sebelumnya. Video footage juga bertujuan memperkaya tampilan klip di media sosial.
Namun tentu saja, seperti kata filsuf Prancis Roland Barthes: author is dead. Apapun yang sudah dilepaskan ke ruang publik (ujaran, ucapan, tulisan, karya, hingga tindakan) akan terlepas dari kuasa tafsir sumber pertama yang menyatakan atau membuatnya.
Publik bebas menginterpretasikannya, bahkan dengan pandangan yang seringkali terkesan keras dan jauh dari maksud sumber pertama pemilik otoritas awal.
Masalahnya, seringkali khalayak tidak melihat aspek lain dari sebuah persoalan. Di satu sisi, apa yang dilakukan Hening adalah sebuah tindakan tidak profesional . Dan Hening sudah dihukum oleh tafsir publik karena kecerobohannya.
Namun keberanian Hening untuk meminta maaf dan mengambil tanggung jawab dengan mengundurkan diri, menunjukkan bahwa Mochtar Lubis tak selamanya benar. Hening adalah antitesis ‘Manusia Indonesia‘.
“Dalam sejarah kita dapat hitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan moralita untuk tampil ke depan memikul tanggungjawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi di dalam lingkungan tanggungjawabnya,” tulis Mochtar Lubis.
“Sebaliknya, jika pada sesuatu yang sukses, yang berhasil gilanggernilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan untuktampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya,” kata Lubis.
Mochtar Lubis menulis ‘Manusia Indonesia‘ dengan melihat sosok-sosok manusia generasi ‘baby boomers‘. Generasi yang dilahirkan pada periode 1946-1964, periode pasca Perang Dunia.
Sementara hari ini Hening adalah bagian dari 27,94 persen warga Indonesia yang termasuk dalam generasi Z (dilahirkan pada rentang 1997-2012) dan 25,87 persen warga yang tergolong generasi milenial (kelahiran 1981-1996). Jumlah mereka mencapai kurang lebih dari 144 juta jiwa.
Karakter generasi milenial dan generasi Z berbeda jauh dengan baby boomers pada masa Mochtar Lubis hidup dan mengamati.
Hasil riset Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2023 menunjukkan, bahwa kalangan milenial dan generasi Z sangat terbuka terhadap informasi maupun hal-hal baru yang belum mereka ketahui, serta mudah terpikat dengan sains dan teknologi.
Mereka juga cenderung berpikir kritis, logis, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang dalam mengambil keputusan. Di luar perkiraan banyak orang, Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Lilis Mulyani menyebut selalu mengecek fakta, data, dan informasi yang diterima.
Keterikatan kuat dengan teknologi informasi ini agaknya membuat generasi milenial dan generasi Z memahami bahwa zaman semakin transparan. Sesuatu yang membuat mereka menyadari bahwa setiap tindakan, benar maupun salah, membawa konsekuensi logis untuk diterawang banyak orang.
Sikap Hening menunjukkan bahwa harapan baik masih membentang bagi manusia Indonesia, dan kritik tajam Mochtar Lubis bukanlah keniscayaan, apalagi takdir. Kita pada akhirnya sadar, bahwa manusia senantiasa berkembang, beradaptasi, dan memperbaiki diri dari generasi ke generasi. Baik dengan keheningan, maupun melalui hiruk-pikuk yang melelahkan. [wir]






