Gresik (beritajatim.com) – Di usia yang baru menginjak tujuh tahun, Ahmad Abbyan Nabil Kurniawan membuktikan bahwa prestasi tidak mengenal batas usia. Tepat di momen peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026, siswa kelas 1 SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik ini menghadirkan kabar yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga menggetarkan semangat dunia pendidikan.
Dari sebuah arena kompetisi robotik internasional di Malaysia, Abbyan, nama panggilannya, pulang membawa prestasi gemilang. Ia berhasil meraih Juara 1 Runner Up, atau posisi kedua dalam kategori Robot SUMO 3 kilogram pada ajang Perak International Robot Competition 2026.
Kemenangan ini bukanlah hal yang sederhana. Abbyan harus bersaing dengan sekitar 1.300 peserta dari enam negara Asia, mulai dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Jepang, Singapura, hingga Turki. Lebih menantang lagi, lawan yang dihadapinya bukan hanya anak seusianya, tetapi juga peserta umum dengan pengalaman yang jauh lebih matang.
Namun, di tengah ketatnya persaingan, robot rakitan Abbyan mampu menunjukkan performa luar biasa. Dengan strategi yang presisi, robot tersebut sanggup bertahan, menyerang, hingga menjatuhkan lawan di arena pertandingan.
Di balik prestasi besar itu, tersimpan kisah sederhana yang berakar dari rumah. Ketertarikan Abbyan pada dunia robotik sudah tumbuh sejak kecil, dipengaruhi oleh kebiasaannya melihat sang ayah, Rizki Kurniawan, mengutak-atik robot. “Senang robot sejak kecil, karena sering melihat ayah main otak-atik robot,” ucap Abbyan polos, Senin (4/5/2026).
Dari sekadar rasa penasaran, Abbyan mulai ditempa melalui proses belajar yang konsisten. Bersama sang ayah, ia terus mencoba, berlatih, dan mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan sebelumnya, Abbyan juga telah mencicipi pengalaman bertanding di Turnamen All Japan Robot SUMO di Jepang pada Desember 2025.
Bagi pihak sekolah, capaian Abbyan bukan sekadar trofi atau gelar juara. Lebih dari itu, prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan berbasis minat dan bakat mampu melahirkan generasi unggul sejak dini.
Ekstrakurikuler robotik di SD Muhammadiyah GKB 2 sendiri menjadi salah satu kegiatan favorit siswa. Sebanyak 60 siswa tercatat mengikuti kegiatan ini, di mana mereka diperkenalkan pada dasar-dasar pemrograman, coding sederhana, hingga perakitan komponen robotik.
Kepala sekolah, Farikha, menyebut bahwa robotik bukan hanya soal teknologi, tetapi juga melatih pola pikir dan logika anak. “Robotik ini sangat diminati karena menantang dan mampu mengasah cara berpikir. Kalau dikembangkan sejak dini, hasilnya bisa luar biasa,” ungkapnya.
Prestasi Abbyan pun menjadi kado istimewa dalam momentum Hardiknas tahun ini. Tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi dunia pendidikan di Indonesia. “Ini menjadi kado milad dan Hardiknas. Harapannya bisa menginspirasi teman-teman lainnya untuk terus berkembang,” pungkas Farikha.
Kisah Abbyan menjadi bukti kuat bahwa kombinasi antara dukungan keluarga, lingkungan sekolah yang tepat, serta pembinaan sejak dini mampu melahirkan talenta hebat. Dari Gresik, langkah kecil seorang anak kini telah menggema hingga panggung internasional, membawa harapan besar bagi masa depan generasi Indonesia. (dny/kun)






