Surabaya (beritajatim.com) – Tantangan sebuah negara di masa depan akan berat, salah satunya adalah krisis pangan. Semua kota atau kabupaten harus memetakan dan menetapkan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) sehingga bisa menjaga ketahanan. Sedangkan lahan tidak produktif digunakan untuk industri.
Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat melakukan gerakan “Nandur Mangrove” yang digelar Badan Pusat Statistik di Mangrove Medokan Ayu Surabaya. Acara yang dilakukan dalam rangka Hari Statistik Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 26 September itu juga dihadiri Kepala BPS Jatim, dan jajaran Kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim.
“Jadi lahan yang tidak produktif ini bisa digunakan untuk lahan industri, tapi bagi lahan hijau yang produktif terutama area persawahan tolong tetap dijaga produktivitasnya sehingga bisa dimaksimalkan untuk produktivitas pangan. Ini jadi bagian dari penguatan kita menjawab krisis pangan dunia,” katanya.
Menurutnya, tidak mudah untuk memberseiringkan antara lahan sawah dan lahan untuk industri. Tentunya, semua Perda di masing-masing kabupaten/kota sudah membuat pemetaan antara lahan hijau dan lahan industri.
Dikatakan saat ini sering terjadi konflik antara LSD dengan lahan industri. Untuk itu komitmen semua unsur dalam melestarikan lahan sawah sangat penting. Sehingga pelaksanaan Sensus Pertanian pada Tahun 2023 mendatang bisa berjalan baik.
Khofifah juga juga mendukung gerakan nandur mangrove yang melibatkan seluruh elemen untuk kembali menjadikan Indonesia dan Jawa Timur sebagai paru-paru dunia.
Sementara itu, Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan mengatakan, Giat penanaman Bibit Mangrove dan Tebar Benih Ikan serta Benur Udang ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional (HSN) tahun 2022 yang diselenggarakan BPS Provinsi Jawa Timur dan dilakukan serentak bersama 38 kabupaten kota Se Jawa Timur.
“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan diri pada responden data. Terutama responden yang berhubungan dengan aktivitas pertanian seperti tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan juga perikanan. Hal ini demi mensukseskan Sensus Pertanian yang akan dilakukan tahun depan,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”BPS”]
“Kegiatan ini adalah wujud kepedulian seluruh insan perstatistikan di Jatim pada kelestarian lingkungan hidup yang secara bersama-sama melakukan kegiatan sejenis baik penanaman bibit Mangrove, Penghijauan pada beberapa jenis lahan serta pemberian bantuan pertanian seperti benih ikan maupun bibit tanaman produktif,” ujarnya.
Disisi lain, momen HSN ini menurut Dadang juga dijadikan sebagai momen untuk persiapkan kegiatan Sensus Pertanian tahun 2023. Sensus dilakukan karena Jatim merupakan sentra pertanian atau lumbung pangan nasional.
“Tentunya membutuhkan potret data pertanian untuk perkembangan 2023 supaya program yang dibuat pemerintah, utamanya petani bisa lebih pas atau tepat. Sebagai lumbung pangan nasional, Jatim menempati titik krusial untuk bagaimana memberikan sumbangsih kepada Indonesia, baik dalam tanam pangan, peternakan, perikanan, kehutanan, hortikultura,” terangnya.
Terkait pelaksanaan Sensus Pertanian yang rencananya akan dilaksanakan selama bulan Mei 2023, ada puluhan ribu petugas yang akan diterjunkan. mereka akan melakukan pendataan berbasis rumah tangga, door to door.
“Karena rumah tangga itu ada yang juga mengusahakan padi, ada yang mengusahakan perikanan dan ada juga yang mengusahakan peternakan. Sehingga pendataan bukan berdasarkan luasan lahan pertanian tetapi berbasis rumah tangga,” pungkasnya.[rea]






