Surabaya (beritajatim.com) – Peringati Hari Epilepsi se-Dunia, National Hospital menggelar Talk Show bertajuk ‘Epilepsi: Kawan atau Lawan?’. Peringatan tiap 29 Maret ini, National Hospital mengundang penyintas epilepsi sejak 2006 silam, yakni Arvin Widiawan.
Dalam Talk Show tersebut, dr Heri Subianto SpBS (K) Func FINPS (dokter spesialis bedah saraf di National Hospital) menyampaikan gejala umum penderita epilepsi yakni kejang-kejang. Namun, ketika ada orang yang mengalami kejang belum tentu mengidap epilepsi. Karena faktor penyebab banyak. Seperti trauma benturan kepala atau tumor di kepala.
“Apabila kejang terjadi kepada anak, penyebab paling umum yakni mereka lahir secara prematurdan terlahir dengan kelainan otak. Akan tetapi, penyebab utama epilepsy adalah pola aktivitas listrik tidak normal di otak,” kata dokter Heri, saat ditemui usai talk show, Rabu (29/03/2023).
Baca Juga:
Epilepsi Kambuh, PNS Blitar Tabrak Tiang Listrik, Mobil Terbalik
dr Heri menjelaskan, berdasarkan data yang dirangkum sejak tahun 2022 lalu, National Hospital mencatat lebih kurang ribuan pasien telah mendapatkan pelayanan secara excellence di National Hospital. Perlu diketahui, pada tahun lalu, estimasi jumlah pasien epilepsi di Indonesia sekitar 1,5 juta orang secara nasional. Dengan prevalensi 0.5-0.6 persen dari penduduk Indonesia.
Oleh karena itu, pada usia pasien epilepsi yang tergolong beragam. Mulai dari balita hingga usia 50 tahun ke atas. Bahkan tak jarang, masyarakat awam masih beranggapan jika epilepsi merupakan penyakit gangguan mental, kutukan dan bisa sembuh sendiri. Selain itu, informasi penanganan medis masih belum diketahui secara luas.
“Karena itu, National Hospital berkomitmen untuk turut serta aktif menggelar purple day setiap tahunnya. Cara tersebut sebagai untuk meningkatkan kesadaran dunia terhadap epilepsi dan untuk menghilangkan mitos dan ketakutan umum akan gangguan neurologis tersebut,” jelasnya.
Kemudian, dr Heri juga menyampaikan penanganan medis bagi pasien epilepsi. Untuk urutan pertama, pasien perlu konsultasi terlebih dulu dengan dokter. Setelah itu, pasien butuh skrining untuk mengetahui penyebab epilepsi.
“Skrining itu melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI), Elektroensefalografi (EEG) dan Positron Emission Tomography (PET) Scan. Skrining dilakukan atas saran dari dokter dan melihat kondisi pasien,” ujarnya.
Baca Juga:
26 Maret Jadi Hari Epilepsi Sedunia, Begini Sejarah Panjangnya
Dirinya juga menegaskan, pasien yang mempunyai catatan terjadinya kejang, dapat menjadi bahan evaluasi dari dokter yang menangani. Selain itu, catatan tersebut bakal dijadikan sebagai penentu jenis kejang. Setelah ditemukan jenis kejang, dokter akan menentukan terapi yang tepat bagi pasien.
Setelah itu, terapi pertama diawali dengan pemberian obat-obatan anti epilepsi. Kemudian, kondisi pasien dievaluasi, apakah kejangnya terkontrol atau tidak. Namun, jika kejang tidak terkontrol, maka pasien direkomendasikan untuk tindakan operasi.
“Di National Hospital tersedia layanan khusus epilepsy. Yakni, Epilepsi Center atau EPIC. Diresmikan sejak tahun lalu, EPIC menjadi fasilitas penanganan epilepsy secara komprehensif di Indonesia,” sebutnya.
Dokter spesialis bedah itu juga menyebutkan beberapa fasilitas EPIC di National Hospital memiliki MRI 3 TESLA dengan protocol khusus. Lalu, EPIC juga memiliki fasilitas long term video EEG yang jarang dimiliki oleh rumah sakit lain di Indonesia.
“Fasilitas EPIC didukung oleh dokter spesialis saraf dan bedah saraf yang khusus mendalami epilepsy. Serta, tentunya, perawat yang terlatih dalam mengoperasionalkan EEG,” katanya.
Sementara itu, dokter spesialis saraf National Hospital dr. Neimy Novitasari, Sp.N berpesan kepada para penyintas epilepsi, agar tetap menjalankan kesehariannya dengan optimis. Sebab, epilepsi bukan penyakit yang menular.
Dirinya juga menghimbau, agar penyintas epilepsi untuk rutin melakukan kontrol di rumah sakit. Supaya penyintas epilepsi tersebut dapat menekan dan mengantisipasi efek dari epilepsi itu sendiri.
“Untuk diagnostik pasien, kita harus mengetahui bentuk kejangnya, untuk melihat pasiennya terkontrol dengan obat atau tidak. Serta satu lagi yang tidak kalah penting, untuk kebutuhan epilepsi dalam diri untuk evaluasi dan menentukan tempatnya di mana dan waktunya kapan,” jelasnya.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/fk-unair-inagurasi-profesor-ahli-bedah-epilepsi-dari-new-delhi/
Disaat yang sama, Arvin Widiawan salah seorang pasien yang kini tengah bekerja sebagai dosen di salah satu universitas, mengatakan pada awal-awal ia menderita epilepsi, pihak keluarganya mengaku kaget dengan kondisinya saat kejang.
Bahkan, saat ia masuk sekolah, baik waktu SMP, SMA hingga di perkuliahan. Banyak dari teman yang menjauhinya, pada saat dirinya kejang-kejang atau gejala epilepsi. Seperti menjaga jarak dan menghindari Arvin saat di dalam kelas.
“Hingga kuliah itu, saya lebih sering sendiri. Namun, dengan pembelajaran dan ilmu dari perkuliahan. Gejala epilepsi dapat saya tekan, dengan berkonsultasi dengan dokter. Sehingga, dapat melaunching buku berjudul ‘Epilepsi: Kawan atau Lawan?’ ini,” pungkasnya.[asg/ted]






