Lamongan (beritajatim.com) – Hingga saat ini, harga rajungan di Kabupaten Lamongan masih terjun bebas. Hal ini mengakibatkan nelayan tangkapan rajungan di Kawasan Paciran Lamongan resah.
Selain itu, banyak pengepul yang tutup dan tak lagi membeli rajungan dari para pelanggannya dikarenakan belasan eksportir yang biasa mengambil barang dari pengepul kini berhenti beroperasi untuk sementara.
“Kondisi ini sangat meresahkan mas. Padahal sebetulnya hasil tangkapan rajungan dari para nelayan ini melimpah, rata-rata dalam sehari nelayan bisa mendapatkan 15 sampai 20 kilogram,” ujar Rohim, nelayan dari Kampung Sukunan, Desa Paciran, Lamongan, Jumat (3/6/2022).
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI) Lamongan, Muchlisin Amar membenarkan bahwa banyak eksportir yang tutup sementara. Menurutnya, hal ini karena masih ada kelebihan barang di pabrik dan belum bisa diserap oleh importir negara tujuan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”nelayan-lamongan”]
Pria yang juga penasehat KAHMI Lamongan ini menambahkan, dalam satu Minggu terakhir ini hasil tangkapan rajungan juga cukup melimpah, akan tetapi harganya cenderung anjlok.
Dua bulan yang lalu, Muchlisin menyebut, harga daging rajungan masih Rp420 ribu sampai Rp450 ribu per kilogram, sedangkan harga rajungan yang belum dikupas Rp150 ribu per kilogram. Kini hRga tersebut turun menjadi Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram.
“Harga rajungan anjlok, sekitar Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram. Justru yang sangat ditakutkan oleh nelayan saat ini adalah semakin banyak pabrik yang tutup, sehingga membuat harga rajungan kini terus turun. Ini cukup mengkhawatirkan,” terangnya.
Lebih lanjut, Muchlisin selaku Ketua Rukun Nelayan Desa/Kecamatan Paciran menjelaskan, belum ada informasi dari pemerintah, baik dari Kementrian Perdagangan, Kepala Dinas Provinsi terkait, maupun Kabupaten mengenai anjloknya harga rajungan ini.
Oleh sebab itu, Muchlisin berupaya mencari informasi secara mandiri dan terus memantau anggotanya dengan bertanya kepada para pelaku ekonomi di bidang perikanan.
“Ya, kami terus bertanya kepada bakul, pengepul di tingkat lokal, supplier, dan pabrik, baik yang ada di Surabaya, Semarang dan daerah lainnya, sembari menunggu info dari Kementrian Kelautan, Dirjen PDSPKP, Pemerintah Provinsi, hingga DPR. Sekaligus meminta solusi jangka pendek yang dibutuhkan masyarakat nelayan,” akunya.
Tak cukup itu, Muchlisin berkata, dalam beberapa hari terakhir ini pihaknya bersama KAHMI Lamongan juga akan menemui Bupati dan DPRD Lamongan untuk membahas persoalan ini.
“Bagaimanapun juga, sektor ekonomi nelayan termasuk lokomotif perekonomian di Lamongan, dan ini sangat berpengaruh terhadap usaha UMKM yang ada di pesisir Pantura Lamongan. Apabila pendapatan nelayan meningkat, maka hampir dipastikan perputaran ekonomi juga jalan, begitupun sebaliknya,” tuturnya.
Ia berharap, Pemerintah dan DPR mulai dari pusat sampai kabupaten bisa segera memberikan jalan keluar dan informasi yang tepat. “Semoga segera ada jalan keluar, biar tak semakin menyengsarakan para nelayan, khususnya masyarakat nelayan tangkapan rajungan,” tandasnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Perikanan Lamongan Yuli Wahyuono mengatakan bahwa turunnya harga rajungan ini disebabkan oleh ekonomi global. Sehingga ia meminta kepada para nelayan atau pelaku usaha rajungan untuk bersabar dalam beberapa waktu.
“Sementara bersabar dulu, sembari menunggu perkembangan selanjutnya. Kita dari Dinas Perikanan tidak bisa berbuat banyak, karena ini memang dampak dari ekonomi global,” pungkasnya.[riq/kun]






