Blitar (beritajatim.com) – Harapan masyarakat Blitar Raya untuk mendapatkan harga material bangunan yang stabil pasca-Lebaran 2026 harus pupus. Lonjakan harga plastik dan pengetatan regulasi impor memicu kenaikan signifikan pada sejumlah bahan bangunan, bahkan mencapai 40 persen.
Kondisi ini mulai dirasakan pelaku usaha retail di wilayah Blitar Raya dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan kali ini dinilai tidak wajar karena jauh melampaui tren tahunan yang biasanya hanya berkisar 2 hingga 5 persen.
Owner Toko Graha Bangunan, Daniel Lim, mengungkapkan bahwa produk cat menjadi sektor yang paling terdampak.
“Untuk cat berbahan dasar air, kenaikannya sekitar 10 sampai 20 persen. Namun, yang paling terasa adalah cat berbahan dasar minyak yang melonjak hingga 20 sampai 40 persen karena ketergantungan bahan baku impor yang sangat tinggi,” papar Daniel, Sabtu (11/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga bijih plastik turut mendorong biaya produksi kemasan. Dampaknya, harga produk turunan yang menggunakan wadah plastik ikut naik dari tingkat distributor hingga ke konsumen.
Selain faktor bahan baku, distribusi dan kebijakan impor menjadi variabel penting yang memengaruhi harga. Pengetatan aturan impor, khususnya untuk produk keramik dan granit asal India, membuat pasokan tersendat.
Kenaikan harga juga merembet ke material lain seperti produk sanitary dan pintu kamar mandi yang naik sekitar 5 hingga 10 persen. Sementara itu, harga atap dan granit juga mengalami kenaikan di kisaran yang sama.
“Kenaikan sebenarnya sudah terasa sejak awal tahun, namun setelah Lebaran ini lonjakannya jauh lebih signifikan. Distribusi yang melambat karena regulasi impor yang ketat ikut membebani harga jual di daerah,” imbuhnya.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha berupaya menjaga kepercayaan pelanggan dengan memberikan edukasi terkait penyebab kenaikan harga.
“Kami jelaskan secara transparan kepada pelanggan bahwa kenaikan ini dipicu faktor eksternal yang di luar kendali kami. Sebagai solusinya, kami memperbanyak program promo untuk tetap menjaga daya beli masyarakat di tengah situasi ini,” pungkasnya.
Kenaikan harga ini turut membebani masyarakat, terutama bagi mereka yang sedang membangun atau merenovasi rumah.
“Dengan harga seperti itu tentu biaya untuk renovasi rumah kian berat, apalagi gaji kita tidak naik,” ujar Sukur, warga Blitar.
Menurutnya, meskipun harga melonjak, kebutuhan material bangunan tetap harus dipenuhi.
“Kalau membangun rumah itu kan kebutuhan primer jadi mau tidak mau otomatis akan dibeli, namun ya berat jujur,” tegasnya. [owi/beq]






