Bondowoso (beritajatim.com) – Anomali cuaca membuat situasi pasar ikan tidak menentu. Hal ini berdampak pada industri besek ikan pindang di Kabupaten Bondowoso.
Sukram, pengrajin besek pindang asal Desa Bendelan, Kecamatan Binakal bahkan memilih untuk menyimpan produknya di rumah dibandingkan dijual.
“Kalau dijual sekarang harganya murah. Per 100 besek Rp40 ribu. Gak nutut ke biaya produksinya,” kata Sukram pada BeritaJatim.com, Selasa (21/5/2025)
Ia menyebut, harga ideal per 100 besek untuk ia mendapatkan untung minimal sebesar Rp 50 ribu per 100 besek. “Jadi kalau harganya sekarang murah, lebih baik saya simpan saja. Menunggu nanti harganya naik,” tuturnya.
Di dalam rumahnya saja terdapat 6.500 besek ikan pindang yang disimpan. Jika harga naik, pihaknya akan menjualnya ke pasar atau pengepul.
Bambang Hartono, kepala desa bendelan sekaligus pengepul besek pindang mengakui banyak pengrajin menyimpan produknya.
“Asalkan barangnya kering, pasti awet. Bahkan bisa bertahan sampai 3-4 bulan ke depan,” ucapnya.
Kondisi ini menurutnya tergolong normal. Ada dua faktor penyebab. Pertama, tangkapan ikan masih minim, sehingga permintaan besek pindang juga rendah.
“Kedua anomali kemarau basah. Yang seharusnya penjemuran bambu (bahan baku besek) bisa kering sehari, sekarang bisa 2-4 hari. Ini juga mempengaruhi biaya produksi dari pengrajin,” bebernya. (awi/ian)






