Tuban (beritajatim.com) – Harga cabai di Pasar Baru Tuban merangkak naik hingga menyentuh angka Rp95 ribu per kilogram pada momen bulan Ramadan 2026 ini. Kenaikan harga komoditas pedas tersebut diikuti oleh lonjakan sejumlah bahan kebutuhan pokok lainnya di pasar tradisional setempat.
Harga cabai di wilayah ini memang kerap mengalami fluktuasi yang tidak menentu, terutama saat memasuki bulan puasa hingga menjelang Idul Fitri. Kondisi harga yang tidak pasti setiap harinya membuat para pedagang dan konsumen harus bersiap menghadapi perubahan harga yang sangat cepat.
Salah seorang pedagang Pasar Baru Tuban, Yulinar (40), menjelaskan bahwa harga cabai tercatat sebesar Rp85 ribu per kilogram pada hari sebelumnya. Namun, pada hari Jumat ini harga tersebut resmi naik menjadi Rp95 ribu per kilogram untuk setiap kilonya.
“Pokok cabe itu naik turun, biasanya kalau naik ya sampai Rp120 ribu,” ujar Yulinar saat ditemui di lapaknya, Jumat (27/2/2026). Ia memprediksi kenaikan harga ini akan terus merangkak seiring mendekatnya malam hari raya Idul Fitri atau jelang lebaran mendatang.
Kenaikan harga pada minggu pertama Ramadan hingga saat ini dinilai belum mencapai titik puncak yang melambung tinggi. Faktor utama penyebab kenaikan ini adalah siklus tahunan bulan puasa yang meningkatkan permintaan pasar pada waktu-waktu tertentu.
“Faktornya ya karena bulan puasa, kalau maleman biasanya naik,” terang perempuan asal Tuban tersebut mengenai tren harga musiman.
Selain cabai, komoditas telur juga mengalami kenaikan harga menjadi Rp30 ribu dari kisaran harga sebelumnya senilai Rp27 ribu sampai Rp28 ribu.
“Termasuk minyak goreng juga naik menjadi Rp19 ribu biasanya Rp18 ribu,” imbuh Yulinar.
Mengenai jumlah pengunjung, Yulinar mengungkapkan bahwa aktivitas transaksi selama bulan puasa justru cenderung lebih sepi dibandingkan hari biasanya. Fenomena ini diduga terjadi karena adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai bergeser selama menjalankan ibadah puasa.
“Ya sepi, kan bulan puasa, biasanya orang-orang nggak masak, lebih pilih beli matangan,” tutup Yulinar. [dya/beq]






