Pasuruan (beritajatim.com) – Menghadapi lonjakan harga beras dan minyak di Kota Pasuruan, Pemerintah Kota Pasuruan melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian mengadakan operasi pasar. Operasi pasar ini direncanakan akan berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 15 dan 16 Agustus.
Tanggapan positif datang dari warga Kota Pasuruan terhadap pelaksanaan operasi pasar ini. Setidaknya, puluhan warga terlihat mengantri di Gor Untung Suropati. Tidak hanya ibu rumah tangga, bahkan para bapak turut berbaris untuk mendapatkan beras dan minyak dengan harga terjangkau.
Agar dapat membeli beras dan minyak dengan harga yang lebih murah, warga diminta untuk menunjukkan kartu tanda pengenal. Kebijakan ini diambil karena operasi pasar ini hanya diperuntukkan bagi warga Kota Pasuruan.
Dengan menunjukkan KTP, masyarakat bisa mendapatkan beras seharga Rp 43.000 untuk setiap lima kilogram. Sedangkan harga minyak dalam operasi pasar ini dijual seharga Rp 13.500 per liter.
“Pagi tadi, saya datang lebih awal untuk mengantri membeli beras dan minyak murah. Sudah mengantri sejak pukul 08.00. Sekarang, harga beras di pasaran sudah mahal, bahkan mencapai Rp 13 ribu untuk satu kilogramnya,” ungkap Pujiati Ningtyas (30) pada hari Selasa (15/8/2023).
Baca Juga: Mobil Box Muat Bir Bintang Terguling di Jalan Trawas – Pandaan Pasuruan
Ningtyas juga berharap agar Pemerintah Kota Pasuruan dapat sering mengadakan operasi pasar semacam ini. Menurutnya, operasi pasar dapat membantu meringankan beban ekonomi yang tengah dihadapinya.
Di tempat lain, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Riski Pramita, mengakui bahwa harga beras di pasaran saat ini sedang mengalami kenaikan. Kenaikan ini sudah dirasakan sejak dua minggu yang lalu, dengan harga yang perlahan naik hingga mencapai sekitar Rp 11.200 per kilogram atau Rp 58.000 untuk setiap lima kilogram.
“Selama dua minggu terakhir, harga beras mulai naik secara perlahan, itulah mengapa kami mengadakan operasi pasar ini. Kami telah menyediakan 12 ton beras dari BULOG dan 100 karton minyak,” jelas Riski.
Riski juga menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas ini disebabkan oleh musim kemarau yang berkepanjangan. Kondisi ini juga mengakibatkan produksi gabah di Jawa Timur mengalami penurunan. (ada/ted)






