Ringkasan Berita:
- Laga Persid Jember melawan Persak Kebumen hanya disaksikan 1.120 penonton di JSG.
- Jumlah tersebut hanya sekitar 5,6 persen dari kapasitas Stadion Jember Sport Garden.
- Berbagai usulan muncul untuk meningkatkan dukungan suporter terhadap Persid.
- Prestasi tim, harga tiket, dan atmosfer pertandingan menjadi sorotan dalam upaya menghidupkan kembali animo masyarakat.
Jember (beritajatim.com) – Hanya 1.120 penonton hadir di Stadion Jember Sport Garden (JSG), Kabupaten Jember, saat Persid Jember kalah 0-1 dari Persak Kebumen pada laga Grup X Babak 32 Besar Liga 4 Nasional, Rabu (10/6/2026). Kekalahan tersebut menjadi yang pertama bagi Macan Raung di kandang sendiri sepanjang Liga 4 musim 2025/2026.
Jumlah penonton itu hanya sekitar 5,6 persen dari kapasitas Stadion JSG yang mencapai 20 ribu orang. Padahal sebelumnya Ketua DPRD Jember, Ahmad Halim, telah mengajak masyarakat memberikan dukungan langsung kepada Persid.
“Persid adalah milik bersama, menjadi tanggung jawab kita bersama selaku warga Jember. Maju atau tidaknya Persid bergantung kepada warga dan semua komponen yang peduli. Kami mengimbau kepada segenap masyarakat untuk bisa datang mendukung langsung pertandingan Persid,” kata Halim.
Saat awal Stadion Jember Sport Garden digunakan pada 2015, jumlah penonton masih relatif banyak. Tribun selatan menjadi pusat dukungan suporter yang menghadirkan nyanyian, yel-yel, hingga bentangan spanduk.
Namun kini, jumlah penonton maupun atribut dukungan terlihat jauh berkurang. Nyanyian kelompok suporter di belakang gawang hampir tidak terdengar, tergantikan teriakan spontan dari tribun utama.
Sepinya stadion turut menjadi perhatian Satriyo Budi Darmawan, suporter yang pernah menjadi ofisial Persid pada 2018.
Melalui akun Facebook pribadinya, Satriyo mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Jember mengoordinasikan keberangkatan suporter dari setiap desa dan kelurahan. Dengan asumsi dua truk berisi masing-masing 20 orang dari setiap desa dan kelurahan, jumlah penonton diperkirakan dapat mencapai sekitar 9.000 hingga 10.000 orang.
Usulan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan kelompok suporter South Sector saat peluncuran skuad Persid Jember untuk Liga 4 musim 2025/2026 di Hotel Fortuna Grande, Senin (1/12/2025).
“Kami berharap support penuh dari Pemkab Jember, terutama Gus Bupati untuk Persid Jember, dengan menginstruksikan para camat untuk memberangkatkan penonton ke JSG,” kata juru bicara South Sector, Akbar.
Harapan itu kembali disampaikan Ketua Yayasan Persid Jember Baru Jember Maju, Ardi Pujo Prabowo, pada April 2026. Ia meminta dukungan pemerintah daerah untuk membantu meningkatkan kehadiran penonton.
“Kami butuh support. Kerahkan seluruh OPD. Kami iri, ketika bermain di Pamekasan, seluruh OPD sampai RT-RW dikerahkan untuk nonton,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember tidak melakukan pengerahan massa secara resmi. Meski demikian, Bupati Jember Muhammad Fawait hadir langsung menyaksikan pertandingan melawan Persak Kebumen dan mengajak masyarakat memberikan dukungan kepada Persid.
“Persid Jember bukan hanya milik pemain dan pengurus, tetapi milik seluruh masyarakat Jember. Mari kita datang ke JSG, memberikan semangat, dan menunjukkan bahwa Jember memiliki suporter yang solid dan luar biasa,” katanya, sebagaimana dikutip dari laman Pemkab Jember.
Harga tiket pertandingan Persid juga menjadi perhatian. Persid mematok harga Rp25 ribu untuk tribun timur dan Rp35 ribu untuk tribun barat. Sebagai perbandingan, Persepam Pamekasan dan Persikoba Batu menjual tiket VIP seharga Rp25 ribu dan tribun ekonomi Rp15 ribu.
Meski demikian, dua tribun utama Stadion JSG telah dilengkapi atap dan kursi plastik, berbeda dengan tribun belakang gawang yang masih berupa tribun berdiri.
Sempat muncul usulan melalui kanal pengaduan masyarakat Wadul Guse agar tiket pertandingan Persid digratiskan. Namun usulan tersebut ditolak oleh Ketua Yayasan Persid Jember Baru Jember Maju, Ardi Pujo Prabowo.
“Kalau digratiskan, bagaimana kami membiayai tim ini?” katanya.
Menurut Ardi, Persid membutuhkan biaya operasional ratusan juta rupiah setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan gaji pemain, pemusatan latihan, hingga akomodasi tim.
Persid memang memperoleh dukungan anggaran dari APBD Jember melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata. Namun anggaran tersebut belum dapat menutup seluruh kebutuhan operasional tim dan penggunaannya harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
Jika dibandingkan dengan periode 2000 hingga 2010 saat masih bermarkas di Stadion Notohadinegoro, antusiasme suporter Persid jauh lebih tinggi. Stadion berkapasitas sekitar 7.000 penonton itu hampir selalu dipenuhi sedikitnya 5.000 penonton setiap pertandingan.
Saat itu Persid berhasil menjuarai Divisi II pada 2002 dan promosi ke Divisi I pada 2003 yang setara dengan Liga 2 saat ini. Persid juga sempat menghadapi klub-klub besar, termasuk Persebaya Surabaya, sehingga pertandingan memiliki daya tarik yang lebih besar bagi masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kehadiran penonton di stadion dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari prestasi tim, level kompetisi, atmosfer pertandingan, hingga keterlibatan suporter. Tantangan itu kini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh elemen Persid Jember untuk kembali membangun antusiasme masyarakat terhadap Macan Raung. [wir/beq]






