Surabaya (beritajatim.com) – Seorang guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Tambaksari Surabaya dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya usai diduga melakukan pencabulan kepada 3 muridnya.
Dari informasi yang dihimpun beritajatim.com, guru berinisial AR (32) tersebut telah dipecat oleh pihak sekolah pada Rabu (15/2/2023). Keputusan pemecatan AR setelah sejumlah wali murid datang dan memprotes pihak sekolah.
Kepala MI, AH mengatakan, aksi bejat AR terungkap usai salah satu korban bercerita kepada orang tuanya bahwa mereka mendapat pelajaran untuk merasakan sayuran berupa timun, wortel, dan terong dengan mata tertutup hasduk yang digunakan oleh para murid.
BACA JUGA:
Modus Transfer Energi, Tukang Pijat Keliling Cabuli Warga Klampis Surabaya
Sebelum pelajaran merasakan sayuran tersebut dilakukan, AR akan mengundi muridnya dengan memakai Stipo (penghapus cair) yang di estafetkan ke seluruh murid. Ia lantas akan mengatakan kata ‘stop’ tanda pemegang stipo terakhir harus merasakan pelajaran merasakan berbagai sayuran tersebut.
“Anak-anak diajak ke sebuah ruangan, bukan gudang. Biasanya dibuat sholat Dhuha dan makan guru-guru. Lalu tangan siswa diikat dan matanya ditutup sambil merasakan buah dan sayur apa yang dimasukan ke mulut mereka,” ujar AHsaat dikonfirmasi awak media.
Namun, Salah satu korban sempat melihat jika AR membetulkan celana usai diminta merasakan sayuran dan melapor ke orang tuanya. Orang tua siswi kelas 5 tersebut lantas menduga anaknya dilecehkan.
Orang tua siswi yang mendapatkan laporan dari putrinya langsung melaporkan kejadian tersebut ke sekolah. AH yang menerima laporan tersebut langsung memanggil AR. Saat itu, AR sempat berkelit. Namun, ketika dirinya menggebrak meja dan marah, AR hanya mengucapkan kata maaf.
BACA JUGA:
Bebas Selama 3 Tahun, Guru Ngaji Pencabul di Wiyung Masuk Sel Polrestabes Surabaya
“Saya marah saya gebrak meja. Akhirnya pak AR cuma bisa nunduk terbata-bata minta maaf, matanya berkaca-kaca, saya tidak menyangka juga karena orangnya baik. Habis jam 12 siang selesai ngajar dia ga langsung pulang tapi mengajar les ke rumah murid-murid dekat sini juga. Keseharian juga sering shalat Dhuha, apalagi dia orang Sedayu Gresik kan terkenal kalangan santri,” tutur AH.
Sementara itu, Ipda Tri Wulandari, Kasubnit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya saat dikonfirmasi membenarkan pelaporan ketiga orang tua siswi MI di Tambaksari tersebut. Saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.
Namun, Wulan enggan menyebutkan berapa saksi yang telah dipanggil. “Iya, masih penyelidikan ya mas,” ujarnya singkat. [ang/suf]






