Pamekasan (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Prof Dr Achmad Muhlis menilai media bukan sekedar corong informasi, tetapi juga memiliki daya dorong membangun kesadaran publik yang berorientasi pada sektor kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam Talkshow Pentahelix dalam rangka perayaan puncak Hari Pers Nasional (HPN) Ke-80 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, di Gedung Bakorwil IV Madura, di Jl Slamet Riyadi Nomor 1 Pamekasan, Senin (15/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Bidang Sosiologi Pendidikan Islam juga menyampaikan pentingnya sinergi antara media dan pengusaha yang tidak boleh hanya berhenti pada urusan publikasi dan bisnis semata. Tetapi kolaborasi keduanya harus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan daerah yang lebih terukur.
“Hemat kami, media itu memiliki posisi strategis dalam membentuk opini publik sekaligus mengawal arah pembangunan. Sisi lain, pengusaha menjadi penggerak utama roda ekonomi. Jika berjalan sendiri-sendiri dampaknya tak akan maksimal, terlebih media bukan sekadar corong informasi, tatapi juga punya daya dorong membangun kesadaran publik,” kata Prof Dr Achmad Muhlis.
Sinergitas antar media dan pengusaha bukan berarti saling memanfaatkan, tetapi harus dimulai dengan adanya komitmen bersama untuk menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. “Tantangan struktural seperti perbedaan kepentingan dan lemahnya mekanisme komunikasi perlu dijawab dengan forum yang rutin dan terarah,” ungkapnya.
“Karena selama ini masih ada tantangan struktural yang kerap menghambat kolaborasi antara media dan pengusaha, di antaranya perbedaan kepentingan hingga belum adanya mekanisme institusional yang terbangun kuat menjadi pekerjaan rumah bersama,” imbuhnya.
Guru besar yang juga tercatat sebagai Direktur Utama Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan, juga mendorong adanya forum yang tidak berhenti pada aspek seremonial semata. “Oleh karena itu perlu ada ruang komunikasi yang rutin dan terarah agar melahirkan gagasan konkrit bagi kemajuan bersama,” tegasnya.
“Sebab kami meyakini jika pemberitaan konstruktif mengenai sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan pemberdayaan UMKM dapat meningkatkan kepedulian publik sekaligus mendorong sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, justru akan berdampak positif bagi sektor pembangunan daerah,” jelasnya.
Tidak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya tanggungjawab sosial media di tengah tantangan disinformasi dan polarisasi, media perlu menjaga independensi serta menjunjung tinggi prinsip akurasi dan keberimbangan agar tetap dipercaya publik.
“Ketika media mampu mengedepankan kepentingan masyarakat luas, maka fungsi kontrol sosial dan edukatif akan berjalan beriringan. Hal ini pada akhirnya akan memperkuat fondasi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif,” tegas guru besar yang akrab disapa Prof Mukhlis.
Terlebih media juga memiliki daya dorong penting untuk membangun kesadaran publik secara menyeluruh. “Artinya media bukan hanya penyampai kabar, tetapi juga agen perubahan. Dengan perspektif yang berorientasi pada kesejahteraan, media dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih sadar, kritis, dan partisipatif,” pungkasnya. [pin/ian]






