Malang (beritajatim.com) – Prof. Dr. Ir. Tri Dewanti Widyaningsih, M.Kes., seorang Guru Besar di bidang gizi, pangan fungsional, dan nutrasetikal dari Universitas Brawijaya (UB), mengungkapkan keyakinannya bahwa masalah stunting dapat diatasi melalui penggunaan pangan lokal. Pernyataan ini disampaikan melalui bukunya yang berisi pemikiran profesor dan doktor dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB.
Menurut profesor yang berasal dari program studi Teknologi Pangan ini, pengembangan produk seperti food bar berpotensi menjadi solusi alternatif dalam mengatasi masalah stunting. Food bar merupakan makanan yang sangat populer, terutama di kalangan anak-anak, terutama balita.
“Keunggulan dari food bar adalah praktis, tahan lama, memiliki nilai gizi dan energi yang tinggi, serta bisa dikemas dengan menarik. Food bar dapat hadir dalam berbagai bentuk, seperti snack bar, flakes, atau granular. Proses pembuatan food bar juga menggunakan teknologi yang tepat sehingga produksinya menjadi lebih mudah,” ungkapnya saat dihubungi melalui WhatsApp, pada Selasa (5/9/2023).
Penggunaan pangan lokal di dalam formulasi pembuatan food bar dapat memanfaatkan sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, vitamin, dan mineral. Sebagai contoh, sumber protein dapat berasal dari kacang merah atau hijau, tempe, ikan tuna atau ikan lele, telur, dan susu. Sementara itu, sebagai sumber energi atau karbohidrat, dapat digunakan ubi jalar ungu atau kuning, atau umbi lokal lainnya seperti labu kuning, sukun, jagung, dan sorgum.
BACA JUGA:
UB Malang Punya Guru Besar Bidang Probiotik dan Gigi Anak
Di sisi lain, sumber vitamin, mineral, dan antioksidan bisa diperoleh dari sayuran dan buah-buahan seperti wortel, kelor, buah pisang, mangga, stroberi, serta berbagai jenis sayuran dan buah yang lain. Buah-buahan yang dikeringkan dapat digunakan sebagai pengganti kismis yang biasanya ditambahkan pada produk food bar.
“Formulasi dalam pembuatan food bar memiliki peran penting dalam menentukan kandungan gizi dan energi produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, pemilihan bahan dan perbandingan proporsinya perlu dihitung secara optimal,” jelasnya.
Menurut dosen Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi, stunting yang terjadi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Stunting mengakibatkan pertumbuhan organ tubuh yang tidak optimal.
“Anak-anak yang mengalami stunting berkontribusi terhadap angka kematian balita dan menghilangkan masa hidup yang sehat setiap tahunnya. Selain itu, kekurangan gizi juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, dan stroke,” tambahnya.
BACA JUGA:
Mahasiswa UB Malang Bantu Petani Pamekasan Cek Kesuburan Tanah
Upaya penurunan angka stunting melibatkan dua jenis intervensi, yaitu intervensi gizi khusus untuk mengatasi penyebab langsung stunting, dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, dibutuhkan dukungan prasyarat, termasuk komitmen politik dan kebijakan, keterlibatan pemerintah dan sektor-sektor terkait, serta kapasitas untuk pelaksanaan.
Food bar, sebagai produk padat gizi dan energi yang berbasis pangan lokal, dapat digunakan sebagai bagian dari intervensi gizi khusus yang secara langsung meningkatkan asupan gizi pada anak-anak yang mengalami stunting. Selain itu, food bar praktis, tahan lama, dan disukai oleh anak-anak, sehingga diharapkan dapat memperbaiki status gizi anak-anak yang mengalami stunting.
“Penggunaan bahan pangan lokal juga akan memberikan nilai tambah ekonomi, nutrisi, dan sosial yang signifikan,” tutupnya. [dan/beq]






