Kediri (beritajatim.com) – Jumlah anak di Kabupaten Kediri yang mengalami stunting atau kekerdilan terbilang besar. Hingga pertengahan tahun ini angkanya mencapai 10.600 atau 14.1 persen.
Belasan ribu anak tersebut mengalami gangguan tumbuh kembang. Namun, apabila dibandingkan Jawa Timur dan Nasional, jumlah tersebut masih berada di bawahnya, masing-masing 23,5 persen di Jatim dan 24,4 persen tingkat Nasional.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dalam acara Rembuk Stunting di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) beberapa waktu lalu mengaku, temuan kasus kekerdilan pada anak ini menjadi perhatian khusus. Pihaknya memasang target untuk menurunkan angka stunting hingga satu digit, pada tahun 2023 mendatang.

Kembangkan Beras Biofortifikasi
Ditambahkan olehnya, banyak temuan kasus stunting di Kabupaten Kediri yang langsung diintervensi. Salah satu upaya yang akan ditempuh Pemerintah Kabupaten Kediri melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat untuk mengembangkan beras biofortifikasi dengan kandungan tinggi zinc.
“Beras biofortifikasi ini adalah beras unggulan yang memang dikhususkan untuk anak-anak stunting,” imbuh bapak satu anak ini.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Kediri”]Beras biofortifikasi yang dimaksud merupakan beras hasil pengembangan Kementerian Pertanian yang memiliki kandungan zinc tinggi melalui varietas unggul padi Inpari IR Nutri Zinc. Beras biofortifikasi itu, menurut Mas Dhito merupakan program pemerintah pusat yang pelaksanaannya berkolaborasi dengan pemerintah daerah.
“Kita sedang menyiapkan sekitar 2800 hektar lahan di daerah Purwoasri untuk penanaman beras biofortifikasi,” terangnya.
Lanjut Mas Dhito, saat ini yang tengah dipertimbangkan yakni penjaminan penjualan hasil produk beras itu, selain khusus untuk stunting. Sebab, beras itu merupakan produk varietas baru yang belum familier di kalangan masyarakat.
Terpisah, Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Kediri Dewi Maria Ulfa menyampaikan upaya penurunan stunting dilaksanakan secara berjenjang dan telah dituangkan dalam surat keputusan pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa.
Diungkapkan Mbak Dewi, sebutan akrab Wakil Bupati Kediri itu, pada tahun 2019-2022 telah ditetapkan 42 desa di Kabupaten Kediri sebagai lokus stunting. Kemudian, pada 14 Maret 2022 telah disepakati lokasi desa stunting di Kabupaten Kediri tahun 2023 sebanyak 343 desa dan satu kelurahan.
“Pada tahun 2023 Kabupaten Kediri telah menjadikan semua desa sebagai lokus stunting,” ungkap Mbak Dewi
Dengan penambahan lokus stunting itu, lanjut Mbak Dewi, program dan kegiatan yang mendukung penurunan stunting di tiap SKPD direncanakan anggaran dan lokasinya disesuaikan dengan lokasi desa stunting tahun 2019-2023. [nm/but]






