Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS mengkaji kurang optimalnya proses bisnis dalam organisasi. Kajian itu pun menghasilkan kerangka kerja MPB (Manajemen Proses Bisnis) era transformasi digital.
Guru besar itu adalah Prof Mahendrawathi. Dalam orasi ilmiahnya, Prof Mahe menerangkan jika seluruh organisasi seharusnya melakukan proses bisnis dan memiliki orientasi pada proses.
Dalam hal ini, kata dia, ada aktivitas saling terkait yang dilakukan seseorang dengan menggunakan sumber daya dalam organisasi untuk memuaskan kebutuhan organisasi dan pelanggan.
Adanya proses pemuasan kebutuhan itu akan menjadikan organisasi terpaku pada cara untuk mencapai tujuan bisnis, seperti penekanan pada Key Performance Indicator (KPI), sehingga organisasi tak memperhatikan proses bisnisnya.
“Dengan adanya perkembangan teknologi saat ini menjadikan organisasi lebih mementingkan segi operasional dibandingkan manajemen proses bisnisnya,” kata Prof Mahe, ditulis Rabu (9/8/2023).
Padahal, kata dia, proses bisnis sejatinya landasan sebuah organisasi agar mencapai kinerja yang baik dan menghasilkan nilai lebih. Baik itu bagi individu, organisasi, komunitas, maupun masyarakat luas.
BACA JUGA:
Mahasiswa ITS 2023 Amadeo Yesa Raih Nilai UTBK Tertinggi di Indonesia
“MPB berperan penting menciptakan nilai bagi pelanggan, terlebih di era transformasi digital saat ini,” papar Prof Mahe dalam orasi ilmiahnya berjudul ‘Manajemen Proses Bisnis Berbasis Konteks di Era Transformasi Digital’ itu.
MPB sendiri adalah disiplin yang melibatkan berbagai kombinasi dari identifikasi, analisis, perancangan ulang, implementasi, dan kontrol aliran aktivitas bisnis dengan cara yang memungkinkan untuk mendukung tujuan organisasi.
Prof Mahe sendiri mengembangkan Kerangka Kerja MPB Berbasis Konteks. Lewat kerangka itu, dijelaskan langkah yang harus dijalankan oleh organisasi dalam berbisnis.
BACA JUGA:
Tim Anargya ITS Sabet 6 Gelar di Ajang Formula Bharat Pi-EV 2023
Hal utamanya seperti, organisasi perlu mengetahui tingkat persaingan industri, ada tidaknya produk substitusi, serta besarnya tekanan dari pelanggan, pemasok, maupun perubahan teknologi. “Kegiatan itu disebut analisa sisi strategis organisasi,” jelasnya.
Saat analisa itu terpenuhi, selanjutnya organisasi bisa melakukan proses bisnisnya. Berikutnya, visi, tujuan strategis, dan ukuran kerja di era transformasi digital perlu dikombinasikan dengan tujuan tradisional.
Kerangka kerja yang dikembangkan Prof Mahe ini menghasilkan arahan baru bagi organisasi untuk merumuskan strategi yang tepat dalam mengelola proses bisnis untuk menyeimbangkan aspek sosial, teknis, dan juga lingkungan. [ipl/but]






