Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Adjie Pamungkas menggagas model perencanaan berbasis risiko untuk membangun ketahanan kota terhadap bencana.
Menurut Adjie, langkah pertama yang harus dilakukan dalam penerapan model perencanaan berbasis risiko adalah menambahkan unsur kebencanaan secara spesifik di setiap bagian materi rencana tata ruang.
Di antara unsur tersebut yakni penggunaan data dan analisis bencana yang komprehensif, penentuan kebijakan pro ketahanan kota, hingga penyediaan infrastruktur pengurangan risiko dan infrastruktur kedaruratan.
Profesor pertama dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS ini mengatakan bahwa kebijakan itu bisa berupa regulasi soal utilitas pendukung bangunan kompleks untuk membantu bangunan sederhana melewati masa kedaruratan.
“Implementasinya bisa dengan penambahan volume cadangan air pada gedung hotel, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar saat kondisi darurat,” kata Adjie, ditulis Selasa (2/1/2024).
Infrastruktur pengurangan risiko dan infrastruktur kedaruratan yang berhasil Adjie kembangkan adalah Sistem Informasi Darurat Gempa (SIGAP).
Situs ini dapat mendeteksi sumber infrastruktur kedaruratan, memonitor kondisi, ketersediaan, dan proses perpindahan dari sumber penyedia menuju korban bencana. “proses penyediaan infrastruktur kedaruratan menjadi lebih efektif dan efisien,” ungkapnya.
Setelah merencanakan kota dengan sistem dan perencanaan berbasis risiko yang baik, langkah selanjutnya adalah menyiapkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Adjie menjelaskan, pemahaman masyarakat terhadap bencana dapat ditingkatkan melalui pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan penanganan kebencanaan. Dalam hal ini, pemerintah wajib memprioritaskan kelompok yang rentan saat terjadi bencana, salah satunya penyandang disabilitas.
Berangkat dari gagasan tersebut, Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS melakukan simulasi evaluasi gempa menggunakan jalur evakuasi inklusif di Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) di Keputih, Surabaya.
Proyek tim Puslit MKPI ITS yang berada di bawah pimpinan Adjie ini juga menghadirkan peta Evakuasi Raba Berbicara (Evari) untuk mempermudah pembelajaran evakuasi gempa bumi bagi orang disabilitas netra melalui table top exercise.
Adjie berharap, hasil riset ini bisa ditransformasikan ke dalam kebijakan, regulasi, maupun praktik yang berlaku di lapangan. “Dengan demikian, kota-kota di Indonesia akan memiliki ketahanan dan keberlanjutan,” tandasnya. [ipl/ian]






