Blitar (beritajatim.com) – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar mulai berakselerasi memperbaiki infrastruktur jalan yang menjadi urat nadi mobilitas warga. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar mengerahkan Unit Reaksi Cepat (URC) untuk menangani kerusakan di 14 ruas jalan strategis demi memastikan keamanan para pemudik.
Langkah ini pun disambut baik sebagai bentuk respons cepat terhadap keluhan masyarakat. Namun disisi lain metode yang digunakan masih bersifat jangka pendek, yakni tambal sulam juga memicu catatan kritis mengenai ketahanan aspal pasca hingga Lebaran nanti.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Blitar, Agus Zaenal, mengungkapkan bahwa prioritas pengerjaan saat ini difokuskan pada jalur-jalur utama yang menghubungkan Blitar dengan kabupaten tetangga serta akses menuju destinasi wisata. Wilayah selatan menjadi perhatian khusus menyusul derasnya masukan dari masyarakat terkait kondisi jalan yang menghambat akses ekonomi.
“Untuk kesiapan mudik, melalui program URC, kami mulai menyisir wilayah selatan seperti jalur Blitar-Bakung dan Tambakrejo. Selain itu, jalur penghubung antar-daerah seperti Blitar-Tulungagung-Kediri, wilayah Nglegok, hingga jalur arah Malang melalui Selopuro dan Kesamben terus kami kerjakan,” jelas Agus Zaenal saat dikonfirmasi, Rabu (25/2/2026).
Namun, di balik upaya percepatan perbaikan jalur mudik itu, terselip fakta yang cukup mengganjal. Agus Zaenal mengakui bahwa pengerjaan tambal sulam di 14 titik tersebut masih mengandalkan sisa material dari anggaran tahun sebelumnya.
“Kami masih menggunakan sisa bahan yang kemarin,” tambahnya.
Penggunaan sisa bahan untuk jalur vital sekelas Blitar-Malang atau Blitar-Kediri tentu dikhawatirkan warga tidak akan memberikan hasil maksimal. Tambal sulam seringkali menjadi solusi yang hanya bertahan dalam hitungan bulan, terutama jika intensitas hujan di Bumi Penataran masih tinggi.
Secara umum, langkah Dinas PUPR patut diapresiasi sebagai upaya meminimalisir kecelakaan lalu lintas bagi warga yang pulang kampung alias mudik. Namun, publik tentu berharap agar perbaikan jalan tidak hanya menjadi proyek tahunan menjelang hari raya.
Ketergantungan pada sisa bahan dan metode tambal sulam mencerminkan adanya hambatan pada manajemen anggaran daerah atau keterbatasan alokasi dana perbaikan jalan secara permanen. Tanpa adanya peningkatan kualitas bahan aspal dan drainase yang mumpuni di sepanjang 14 titik tersebut, perbaikan ini berisiko menjadi pemborosan tenaga jika jalan kembali berlubang sesaat setelah arus balik usai.
Masyarakat kini menanti, apakah 14 ruas jalan yang dipoles dengan sisa bahan ini mampu memberikan kenyamanan sepadan, ataukah pemudik harus tetap ekstra waspada saat melintasi jalur-jalur yang diperbaiki secara sementara tersebut. [owi/aje]







1 Komentar
gak perlu diapresiasi, kalau perlu di sumpahin karena pajak rakyat di makan pejabat beserta kroninya. setelah hari raya, semua jalan rusak akan dibiarkan sampai ada rakyat yg mati karena kecelakaan.