Surabaya (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Timur memperkuat politik representatif dan inklusif dengan membuka ruang dialog bersama komunitas gereja dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Timur, Selasa (5/5/2026).
Forum ini menjadi langkah strategis Golkar Jatim untuk menyerap langsung aspirasi masyarakat lintas kelompok sekaligus memperluas partisipasi publik dalam proses politik daerah.
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Ali Mufthi, menegaskan bahwa agenda tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan forum substantif untuk mendengar persoalan nyata yang dihadapi komunitas gereja.
“Ini adalah ruang sambung rasa dan sambung pikiran. Kami ingin mendengar langsung dinamika yang dihadapi komunitas gereja, sekaligus memastikan mereka memiliki akses yang sama dalam menyampaikan aspirasi,” ujarnya.
Ali menekankan bahwa seluruh masukan yang dihimpun akan dipetakan berdasarkan jalur kebijakan, baik melalui legislatif maupun koordinasi dengan pemerintah daerah.
“Kami tidak ingin berhenti pada mendengar. Yang paling penting adalah bagaimana aspirasi ini bisa ditindaklanjuti menjadi solusi konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, isu pendidikan menjadi salah satu perhatian utama.
Perwakilan dari Kabupaten Jombang, Debrina Puspita, menyoroti kondisi sarana dan prasarana sekolah YBPK yang dinilai memerlukan perhatian serius.
Menurutnya, sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan akibat usia bangunan yang tua dan belum mendapatkan intervensi memadai dari pemerintah.
“Kondisi ini tentu berdampak pada kenyamanan dan kualitas belajar mengajar. Kami berharap ada intervensi nyata agar fasilitas pendidikan menjadi lebih layak,” katanya.
Selain pendidikan, peserta juga menyuarakan persoalan layanan publik, termasuk akses administrasi dan distribusi program pemerintah yang dinilai belum merata.
Pendeta Bayu yang mewakili Sekretaris Umum PGLI Jawa Timur mengapresiasi forum tersebut sebagai langkah positif.
“Forum ini sangat berarti bagi kami, karena menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi yang selama ini belum tersalurkan secara optimal,” ujarnya.
Ia berharap komunikasi yang telah terjalin dapat berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan.
“Kami berharap ini menjadi awal kolaborasi yang konkret, sehingga aspirasi yang disampaikan benar-benar ditindaklanjuti,” pungkasnya. [tok/beq]






