Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Blitar menetapkan status siaga penuh menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena iklim ekstrem yang dijuluki Godzilla El Nino. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blitar memetakan sedikitnya 23 desa di 7 kecamatan yang berpotensi terdampak paling parah pada 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, menegaskan bahwa langkah prioritas saat ini adalah memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah rawan.
“Untuk tahap awal, kami telah mengalokasikan sekitar 80 rit pengiriman air. Namun, kami harus jujur bahwa jumlah ini kemungkinan besar belum mencukupi seluruh kebutuhan karena skala fenomena Godzilla El Nino ini di luar perencanaan awal tahun 2026,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
BPBD memastikan distribusi air bersih akan difokuskan ke titik-titik kritis yang telah teridentifikasi. Pemerintah juga membuka opsi penambahan armada serta volume distribusi jika kondisi kekeringan semakin meluas.
“Pemerintah berkomitmen untuk terus menambah pasokan jika kebutuhan di lapangan meningkat,” imbuhnya.
Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah terdampak tersebar di tujuh kecamatan. Di Kecamatan Wates meliputi Desa Tugurejo, Sukorejo, dan Purworejo. Kecamatan Binangun mencakup Desa Sumberkembar, Salamrejo, Sukorame, Birowo, dan Sambigede.
Sementara di Kecamatan Panggungrejo meliputi Desa Kaligambir, Kalitengah, Sumberagung, Serang, Balerejo, Margomulyo, dan Panggungrejo. Kecamatan Sutojayan terdapat Desa Bacem.
Untuk Kecamatan Wonotirto meliputi Desa Ngeni, Ngadipuro, dan Wonotirto. Kecamatan Bakung mencakup Desa Plandirejo, serta Kecamatan Kademangan meliputi Desa Dawuhan dan Panggungduwet.
Fenomena Godzilla El Nino diperkirakan membawa dampak lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya, terutama terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian. Karena itu, kesiapsiagaan lintas sektor terus diperkuat guna meminimalkan risiko krisis air di wilayah terdampak. [owi/beq]






