Surabaya (beritajatim.com) – Gorengan seakan telah menjadi hidangan Utama yang tak terpisahkan dari adat berbuka puasa di Indonesia.
Fenomena antrian panjang di gerobak penjual gorengan menjelang waktu magrib menunjukkan bahwa makanan ini memiliki daya tarik yang sangat besar. Walaupun ada banyak pilihan menu sehat lainnya, wangi lezat yang tercium dari
penggorengan seringkali lebih menggoda dibandingkan dengan buah-buahan atau sup hangat.
Biasanya, tubuh yang kehabisan energi setelah berpuasa selama beberapa jam secara alami menginginkan makanan dengan kalori yang tinggi. Gorengan, yang kaya akan lemak dan karbohidrat, memberikan rasa kenyang instan serta lonjakan energi cepat yang dibutuhkan tubuh.
Perpaduan antara tekstur yang renyah diluar dan lembut di dalam menciptakan kepuasan sensori yang dapat memicu hormon bahagia (dopamin), sehingga rasa lapar seolah terpuaskan sepenuhnya.
Karena praktis dan ekonomis juga menjadi faktor utama mengapa gorengan sangat diminati. Ditengah kesibukan menjelang berbuka puasa, banyak orang mencari hidangan yang siap saji dan
mudah ditemukan di jalan dengan harga terjangkau. Dengan hanya mengeluarkan uang kecil, sudah bisa mendapatkan berbagai varian rasa dari bakwan yang gurih, tahu isi yang padat, hingga pisang goreng yang manis, menjadikannya pilihan takjil yang cocok untuk semua
kalangan.
Selain itu, gorengan juga memiliki gambaran sosial dan budaya yang kuat dalam momen Ramadhan. Menikmati gorengan bersama keluarga atau teman-teman sambil menunggu adzan Maghrib telah menjadi ritual kebersamaan yang hangat.
Beragam jenis gorengan membuatnya sangat fleksibel untuk dipadukan dengan berbagai minuman khas buka puasa, seperti es teh manis, kolak, atau es buah, sehingga melengkapi tradisi balas dendam yang lezat saat berbuka.
Namun, di balik kenikmatannya, sangat penting untuk tetap mengontrol agar tidak mengkonsumsi gorengan secara berlebihan. Tingginya kandungan minyak jenuh dan tepung dapat menyebabkan masalah pencernaan atau rasa tidak nyaman jika disantap sebagai hidangan
utama saat perut masih kosong.
Menggunakan gorengan sebagai makanan pendamping, bukan sebagai hidangan utama, dan menyeimbangkannya dengan air putih dan serat adalah cara yang
bijak untuk menikmati tradisi ini tanpa mengesampingkan kesehatan. [Nickma Tsany Byan Leonartha]






