Jakarta (beritajatim.com) – Ratusan peserta Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 mengikuti Gladi Posko Armuzna untuk mensimulasikan penanganan situasi darurat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina pada Rabu (28/01/2026). Simulasi ini bertujuan menguji kesigapan dan koordinasi lintas fungsi petugas dalam melayani jemaah haji, khususnya kelompok lansia, saat puncak ibadah haji berlangsung.
Kegiatan ini membagi peserta ke dalam tiga Daerah Kerja (Daker) dengan lokasi simulasi yang berbeda sesuai tugas masing-masing di Arab Saudi. Daker Bandara bertempat di Gedung A untuk simulasi Arafah, Daker Mekkah di Muzdalifah (SG 1), serta Daker Madinah di Lapangan Basket yang merepresentasikan Mina.
Skenario dimulai sejak pergerakan jemaah dari Mekkah menuju Arafah pada 8 Zulhijjah menggunakan sistem tiga shift bus. Setelah melaksanakan wukuf, jemaah didorong menuju Muzdalifah hingga bermuara di Mina untuk prosesi lempar jamarat.
Ketegangan mulai muncul saat simulasi di Mina ketika ratusan “jemaah” mulai mengeluhkan kondisi fisik yang kelelahan dan emosi yang memuncak. Berbagai persoalan mulai dari kekurangan kursi roda untuk lansia, tenda yang tidak sesuai skema, hingga keterlambatan konsumsi menjadi tantangan utama para petugas.
Letkol Surnadi menekankan bahwa koordinasi antarpetugas merupakan kunci utama untuk mengatasi gejolak emosi jemaah di tengah kepadatan ekstrem. Ia menginstruksikan petugas agar selalu memberikan pelayanan prima dan kepastian solusi meski dalam tekanan situasi yang berat.
“Tanpa ada koordinasi antarpetugas, kondisi tidak bisa segera teratasi,” tutur Letkol Surnadi di sela kegiatan gladi tersebut. Ia juga mencontohkan pentingnya komunikasi petugas konsumsi dalam memberikan kepastian waktu makan kepada jemaah yang sudah mulai lapar.
Penanganan medis juga menjadi sorotan utama dalam gladi posko ini guna memastikan keselamatan jemaah yang mengalami gangguan kesehatan serius. Petugas medis dituntut bergerak cepat melakukan pemeriksaan di lokasi hingga melakukan rujukan darurat ke rumah sakit terdekat jika diperlukan.
Kepala Daker Madinah, Khalillurahman, menyatakan bahwa dinamika yang disimulasikan merupakan potret nyata permasalahan yang rutin terjadi setiap musim haji. Menurutnya, realitas di lapangan nantinya akan jauh lebih berat dibandingkan figuran yang diperankan selama pelatihan di tanah air.
Letkol Surnadi kembali mengingatkan bahwa ujian sesungguhnya bagi seorang petugas haji terletak pada fase Armuzna. Setiap peserta diwajibkan memahami secara mendalam setiap potensi persoalan agar mampu mengeksekusi solusi dengan tepat sasaran.
Pelatihan intensif ini diharapkan mampu membekali para petugas PPIH 2026 dengan mentalitas baja dan kemampuan penyelesaian masalah yang mumpuni. Fokus utama tetap pada perlindungan jemaah lansia dan risiko tinggi agar tetap bisa melaksanakan rukun haji dengan aman dan nyaman. [ian/beq]






