Sidoarjo (beritajatim.com) – Sebuah gerakan seni rupa sedang digagas di Sidoarjo. Sebuah gerakan yang melibatkan seniman, ulama, pejabat pemerintah, pengusaha, akademisi, dan masyarakat umum. Gerakan tersebut bernama Pameran Seni Rupa Masjid, yakni sebuah gerakan membeli lukisan untuk disumbangkan kepada masjid.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Pelaksana Pameran Seni Rupa Masjid Andiek Eko, Selasa (18/4/2023). “Gerakan ini mungkin sesuatu yang baru di Indonesia. Gerakan yang membawa beberapa misi sekaligus. Pertama, menciptakan gerakan untuk kesejahteraan seniman. Kedua, mengembangkan karya seni rupa islami. Ketiga, memakmurkan masjid. Keempat, mendekatkan umat muslim kepada Allah SWT,” katanya.
Mengapa bernama Seni Rupa Masjid? Menurut Andiek, masjid ibarat rumah Tuhan. Memakmurkan masjid sama artinya beribadah kepada Allah SWT.
“Ini selaras dengan kultur masyarakat Sidoarjo secara umum. Masyrakat yang religius. Mayoritas Nahdliyin. Sehingga menjadi wajar bila kita mengembangkan seni rupa yang berwatak transenden, mendekatkan diri pada Sang Pencipta,” ujar Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Sidoarjo yang sekaligus juga Pengurus Lesbumi PWNU Jatim tersebut.
Secara teknis, papar Andiek, gerakan ini berupa pameran lukisan bergaya islami. Lukisan-lukisan yang bila dipandang bakal mengingatkan orang kepada Allah SWT. Tetapi sebagai sebuah gerakan, ini bukan sekadar pameran lukisan.
“Kebiasaan kita, orang membeli lukisan untuk dibawa pulang. Dipajang di tembok rumah. Nah yang ini berbeda. Pada gerakan ini, orang membeli lukisan tidak untuk dibawa pulang. Tetapi untuk disumbangkan ke masjid. Lukisan bakal dipajang di tembok luar masjid. Itu artinya, spirit membeli lukisannya adalah spirit ibadah. Membeli lukisan sebagai bagian dari upaya memakmurkan masjid. Menambahkan aspek artisik terhadap lingkungan masjid,” papar Andiek secara panjang lebar.
Sekadar diketahui, Gerakan Seni Rupa Masjid ini merupakan kerja bareng Kampoeng Seni Sidoarjo, PC Lesbumi Sidoarjo, dan Dewan Kesenian Sidoarjo. Pameran bakal berlangsung tanggal 2 – 4 Juni 2023 di Kampoeng Seni Sidoarjo, Jalan Pondok Mutiara Blok CG No.16, Banjarbendo, Sidoarjo, Jawa Timur.
Beberapa perupa dan tokoh telah menyatakan bersedia memamerkan karya lukisnya dalam pameran ini. Misalnya Suwandi, Amdo Brada, Jansen Jasien, Bangun Asmoro, Lutfi Sakhato, Sulton Akbar, Nonot Sukrasmono, Irwanto, Gus Nizam, Sentot Usdek, Widodo Basuki, dan beberapa lainnya.

Pendiri Kampoeng Seni Sidoarjo Mahmud Welly Al Yunus menuturkan bahwa dia telah sowan kepada 4 ulama dan kiai. Tujuannya untuk meminta nasehat perihal dasar hukum memajang lukisan di area masjid.
“Semua ulama dan kiai yang saya sowani menyatakan bahwa sah hukumnya memajang lukisan di area masjid. Yang terpenting lukisannya tidak boleh menyerupai makhluk hidup, menyerupai manusia atau binatang,” kata Welly.
Pandangan dari ulama dan kiai tersebut lantas direspon oleh Zalfa Robby yang bertindak sebagai kurator pameran. Dia mensyaratkan peserta pameran tidak diperkenankan mengusung lukisan yang menggambarkan, mengilustrasikan, dan menyerupai makhluk hidup.
“Pada gerakan ini, kita pamerkan lukisan yang mewujudkan tentang hal-hal yang imajinatif. Lukisan bisa berbentuk seni abstrak, seni abstraksi, seni teks, seni ornament, dan seni dekoratif. Ruang eksplorasinya masih sangat terbuka,” kata pria lajang lulusan Seni Murni ISI Yogyakarta ini.
Sementara itu, Ketua PC Lesbumi Sidoarjo Akhmad Anis Fahmi berharap gerakan ini menjadi gejala baru di Sidoarjo. Gejala positif demi pemajuan seni budaya dan masyarakat Sidoarjo.
“Kita berharap gerakan membeli lukisan untuk disumbangkan ke masjid ini menjadi gaya hidup masyarakat. Semoga ini bergulir secara berkelanjutan. Berkembang semakin luas. Agar seniman makmur, masjid makmur, dan seni budaya di Sidoarjo kian maju. Amin,” kata Fahmi. [but]






