Ringkasan Berita:
- Desa Drenges Bojonegoro dikembangkan menjadi pusat destinasi wisata Geosite Kedung Lantung.
- Program ini didukung SKK Migas, EMCL, dan LPPM Unigoro.
- Warga dilibatkan langsung dalam pembangunan dan pengelolaan geosite.
- Kedung Lantung diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal menuju UNESCO Global Geopark.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Harapan masyarakat Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, untuk menjadikan wilayahnya sebagai pusat pertumbuhan baru mulai menemukan titik terang melalui pengembangan Geosite Kedung Lantung sebagai destinasi unggulan daerah.
Kawasan di wilayah selatan Bojonegoro tersebut kini dipersiapkan sebagai bagian penting dalam mendukung ambisi besar Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.
Program strategis ini merupakan bentuk kontribusi sektor industri hulu migas melalui SKK Migas bersama ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), yang menggandeng LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro) dalam pendampingan masyarakat.
“Kami bermitra dengan LPPM Unigoro untuk mewujudkannya,” ujar perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, Selasa (12/5/2026).
Slamet menyebut antusiasme masyarakat Desa Drenges menjadi modal utama keberhasilan pembangunan geosite tersebut.
Warga setempat bahkan telah membentuk panitia pelaksana pembangunan secara mandiri dan aktif bergotong royong dalam proses pengembangan kawasan wisata.
Menurutnya, keterlibatan penuh masyarakat penting untuk membangun transparansi, akuntabilitas, serta rasa kepemilikan terhadap destinasi wisata yang sedang tumbuh.
“Bantuan dari EMCL dikelola langsung oleh masyarakat dengan pendampingan tim Unigoro. Hal ini memperkuat rasa kepemilikan warga terhadap Geosite Kedung Lantung,” tambah Slamet.
Camat Sugihwaras, Supranata, turut memberikan apresiasi terhadap semangat kolektif masyarakat, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai fondasi wisata berkelanjutan.
“Jangan lagi buang sampah di sungai. Kedung Lantung ini milik kita, harus dirawat dengan rasa gemati (sayang),” pesannya.
Kepala Desa Drenges, Yaspingi, menilai pengembangan Geosite Kedung Lantung menjadi momentum bersejarah bagi desa yang selama ini menyimpan potensi besar.
Ia mengaitkan langkah ini dengan harapan lama masyarakat yang percaya bahwa Drenges suatu hari akan berkembang menjadi wilayah maju.
Yaspingi juga berharap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mampu memanfaatkan pendampingan secara maksimal agar ke depan dapat mengelola kawasan wisata secara profesional.
Sementara itu, Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, menegaskan bahwa pendampingan yang dilakukan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan sumber daya manusia serta penggalian nilai ilmiah geosite ke level internasional.
“Kami mendampingi dari sisi infrastruktur hingga kapasitas SDM. Semoga Drenges bukan hanya menjadi kota, tapi destinasi dunia,” ungkap Laily.
Geosite Kedung Lantung kini mulai menjadi simbol kebangkitan baru masyarakat Desa Drenges.
Selain mendukung pengembangan pariwisata berbasis geologi, kawasan ini juga diyakini mampu menjadi daya ungkit ekonomi lokal melalui lahirnya peluang usaha baru, peningkatan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. [lim/beq]





