Surabaya (beritajatim.com) – Kapasitas pasar energi global kembali terguncang seiring konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran memasuki pekan kelima.
Dampaknya, harga minyak melonjak tajam dan memaksa bank sentral di berbagai negara menunda rencana pemangkasan suku bunga demi menahan laju inflasi.
Laporan CNBC, Kampanye militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel disebut telah mendorong harga minyak Brent menembus 113 dolar AS per barel, naik sekitar 36 persen sejak awal konflik. Penutupan efektif Selat Hormuz memperparah tekanan terhadap pasokan energi global.
Sejumlah bank sentral, mulai dari kawasan Eropa hingga negara berkembang, kini memilih bersikap hati-hati. Mereka menahan pemotongan suku bunga dan bersiap menghadapi lonjakan inflasi baru yang dipicu harga energi.
Tekanan Berat di Negara Berkembang
Di Turki, sektor perbankan mulai merespons dengan menaikkan biaya pinjaman. Sumber industri menyebutkan, “suku bunga pinjaman komersial akan naik sebesar 5 hingga 6 poin persentase,” yang mendorongnya mendekati 50 persen, meski bank sentral masih menahan suku bunga kebijakan di level 37 persen.
Kondisi serupa terjadi di India. Nilai tukar rupee melemah tajam hingga menyentuh rekor terendah di level 94,83 per dolar AS pada 27 Maret. Penurunan ini mencapai hampir 4 persen dalam satu bulan dan lebih dari 5 persen sejak awal tahun.
Sebagai respons, bank sentral India membatasi posisi valuta asing bank. Analis menilai langkah tersebut sebagai “eskalasi yang jelas dalam upaya pertahanan mata uangnya.” Bahkan, proyeksi terbaru menunjukkan potensi dua kali kenaikan suku bunga tahun ini akibat tekanan harga energi.
Sementara itu, bank sentral di Afrika Selatan juga memilih menahan suku bunga di 6,75 persen. Gubernur Lesetja Kganyago memperingatkan bahwa “inflasi bahan bakar bisa melebihi 18% di kuartal kedua,” yang berpotensi mendorong inflasi utama ke kisaran 4 persen.
Sinyal Bahaya dari Pasar Obligasi
Tekanan juga tercermin di pasar keuangan global. Lelang obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor dua tahun menunjukkan permintaan yang melemah. Rasio bid-to-cover turun menjadi 2,44, terendah sejak Mei 2024.
Imbal hasil (yield) obligasi tersebut melonjak hingga 3,96 persen, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga lebih lama—bahkan berpotensi menaikkannya.
Bank Sentral Global Tahan Diri
Di Inggris, bank sentral memutuskan secara bulat untuk mempertahankan suku bunga di 3,75 persen. Para pembuat kebijakan mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi jika konflik berlanjut.
Langkah serupa juga diambil oleh bank sentral di kawasan Eropa dan Kanada yang memilih menunda pelonggaran kebijakan moneter. Bahkan, pasar mulai memperkirakan potensi kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Para analis energi memperingatkan, dampak ekonomi bisa semakin dalam jika jalur distribusi minyak tidak segera pulih. “Kerusakan ekonomi dapat semakin parah jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali dalam satu hingga tiga minggu ke depan,” ungkap laporan analis.
Di tengah tekanan antara perlambatan ekonomi dan lonjakan harga, bank sentral kini menghadapi dilema besar. Strategi penanganan inflasi pascapandemi dinilai tidak lagi cukup relevan menghadapi krisis energi yang dipicu konflik geopolitik saat ini. (ted)






