Gaya Hidup

Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Ibadah puasa memiliki kedudukan istimewa dibandingkan dengan jenis ibadah lain, khususnya puasa Ramadan. Terlebih puasa Ramadan juga menjadi sebagai bagian dari salah satu rukun Islam, termasuk pula puasa sebagai ibadah yang mendapatkan pahala langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal tersebut sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; ‘Sesungguhnya Rabb kalian berfirman, setiap kebaikan diberi pahala 10 kali hingga 700 kali lipat. Sedangkan puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala puasanya (tanpa batas jumlah pahala)’. Al-Hadits.

Dari salah satu keistimewaan ibadah puasa, aroma bau mulut orang yang sedang berpuasa disebutkan lebih wangi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, daripada aroma wangi misyk (salah satu jenis minyak wangi). Bahkan jika ada orang yang mengajak bertengkar, umat Islam diminta menahan diri dan berkata; ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’.

Bagi setiap muslim, menjalankan ibadah puasa Ramadan hukumnya wajib sesuai dengan anjuran syariat. Muslim sejati wajib menahan diri dari makan minum maupun berhubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Termasuk juga berkewajiban menghindar dari segala sesuatu yang dapat merusak pahala puasa.

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membanggakan orang-orang yang berjuang mengendalikan hawa nafsunya saat melaksanakan ibadah puasa. Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; ‘Allah ‘Azza wa Jalla¬†berfirman kepada para Malaikat: lihatlah kepada hamba-Ku yang meninggalkan hawa nafsu, kesenangan, makan dan minumnya karena Aku’.

Mengacu pada argumentasi di atas, Abu Hamid Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin menjabarkan tentang 3 (tiga) tingkatan orang berpuasa. Meliputi puasa orang kebanyakan (Shaum al-‘Umum), puasa khusus (Shaum al-Khusus), serta puasa khusus dari khusus alias spesial (Shaum al-Khusus al-Khusus).

Shaum al-‘Umum
Pada tingkatan ini, orang melaksanakan ibadah puasa hanya sekedar mencegah perut dari makan, minum dan menjaga diri dari godaan syahwat birahi semata. Bahkan model puasa seperti ini ditingkatkan dengan katagori puasa paling rendah dibandingkan dua model puasa lainnya.

Artinya orang yang melaksanakan puasa dengan model ini, yakni berpuasa hanya sekadar memenuhi persyaratan dalam ibadah ini yaitu menahan lapar, haus, dan bersetubuh suami istri di siang hari. Mereka tetap mendapatkan balasan pahala, namun hanya sedikit.

Sehingga umat Islam harus senantiasa menjaga puasa mereka agar tidak hanya sekadar menjalankan rutinitas semata, atau sekadar menggugurkan kewajiban. Seperti Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; ‘Begitu banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka’.

Shaum al-Khusus
Model ini puasa tidak hanya sekadar menahan diri dari makan, minum dan bersenggama. Namun juga menahan indera dan alat gerak lainnya dari melakukan berbagai hal yang dilarang syariat. Mulai dari pendengaran, penglihatan, ucapan, hingga gerak tangan dan kaki diusahakannya agar tidak sampai melakukan tindakan maksiat.

Untuk bisa masuk pada tingkatan ini, seorang muslim sedikitnya harus menjaga diri sekaligus menjauhkan diri dari 6 (enam) jenis perbuatan berikut: Pertama, menahan diri dari melihat, memandang segala hal yang dicela dan dimakruhkan yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah.

Kedua, menjaga lidah dari perkataan sia-sia seperti mengumpat, berbohong, berkata keji, ucapan yang dapat merenggangkan persaudaraan, ucapan kebencian, atau mengandung riya’. Sehingga seorang muslim yang berpuasa lebih baik berdiam diri dan menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah maupun membaca Al-Qur’an.

Ketiga, menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Ucapan yang haram diucapkan, haram pula untuk didengarkan. Keempat, mencegah anggota tubuh lain dari perbuatan dosa dengan menghindari dari segala sesuatu yang makruh, mencegah perut mengonsumsi hal syubhat saat waktu berbuka.

Kelima, tidak berlebihan saat berbuka puasa hingga perut penuh dengan makanan. Sebab perut yang penuh sesak dengan yang halal (dalam konteks berbuka puasa), berbahaya. Sebab seorang tidak mungkin mendapatkan faedah puasa jika saat tiba waktu berbuka, ia hanya mengincar apa yang tidak didapat saat berpuasa.

Keenam, mempunyai hati yang diliputi rasa cemas dengan penuh harap karena ketidaktahuan (apakah puasanya diterima atau tidak). Sehingga seorang muslim harus senantiasa berikhtiar memperbaiki diri dengan tidak berpuasa pada model dan tingkatan yang dilakukan.

Shaum al-Khusus al-Khusus
Model puasa ini merupakan level puasa para Nabi, orang-orang shalih hingga para kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab pada tingkat puasa ini, hati juga berpuasa dari segala cita-cita hina, termasuk melepas dari segala pikiran duniawi, serta mencegah dari sisi lain selain Allah Subhanabu wa Ta’ala.

Bahkan dalam tingkatan puasa ini, orang yang berpuasa tidak rela saat mereka justru lalai mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab fokus ibadah puasa yang dilakukan pada tingkatan ini hanya semata-mata mengharap Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga puasa level ini masuk katagori tingkatan paling utama. Wallahu A’lam. [pin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar