Sorotan

Kewajiban Puasa Ramadan

WAHAI orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertakwa,” QS Al-Baqarah: 183.

Ayat tersebut merupakan salah satu perintah bagi setiap muslim yang beriman agar melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan, sekaligus menjalankan salah satu dari lima rukun Islam.

Pada tahun ini, 1 Ramadan 1442 Hijriah khususnya di seluruh wilayah Indonesia, serentak digelar pada hari Senin (12/4/2021). Hal itu berdasar hasil rukyatul hilal maupun hisab yang dilakukan Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) bersama sejumlah instansi lain maupun perwakilan ormas lainnya.

Namun sebagai catatan, puasa Ramadan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata. Sebab jika hal itu terjadi, justru kita akan terjebak terhadap dimensi fisik belaka, padahal puasa substansinya lebih condong pada dimensi kejiwaan atau lebih tepatnya memadukan dimensi fisik dan kejiwaan.

Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; “Begitu banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka,” al-Hadits. Sehingga dari kedua dalil tersebut, dapat kiranya kita mengambil kesimpulan sendiri, untuk apa kita diwajibkan berpuasa.

Terlebih kewajiban tersebut hanya dilakukan sebulan penuh selama Ramadan, di mana secara umum kehidupan manusia modern, termasuk di Indonesia yang cenderung menyeret manusia pada suatu situasi dan kondisi yang runyam. Aktivitas dalam segala bentuknya justru menjurus pada hal yang semakin rumit, baik secara individual, sosial maupun spiritual.

Tampak terlihat begitu banyak penyakit individu yang bersifat fisik, kejiwaan maupun moral yang diderita manusia modern, termasuk meningkatnya peredaran berbagai jenis obat penyakit fisik hingga obat penenang yang justru tidak jarang disalah gunakan. Hal itu jelas menunjukkan gejala yang semakin meluas.

Penyakit sosial yang mulai menyebar tak terarah sebagai dampak kehidupan yang semakin individual, krisis bangsa ini penyebab utamanya adalah penyakit moral yang sudah bisa dikatagorikan kronis dan tidak hanya mereka yang melakukan tapi juga mereka yang tidak ikut serta.

Bahkan tidak jarang saat ini banyak orang mencari ‘pelarian’ untuk menenangkan batin atas berbagai problematika hidup mereka, terbukti dengan banyaknya tempat hiburan sampai kegiatan meditasi. Manusia modern benar-benar berada dalam situasi kritis, mereka cenderung terjebak dengan konsep arifisial yang mereka buat sendiri.

Apalagi sebagian dari mereka juga ada yang ingin hidup serba instan dan sebenarnya justru menjerumuskan mereka terhadap berbagai persoalan yang sulit dipecahkan. Lantas apa solusi mengatasi persoalan tersebut, jawabannya hanya satu: puasa. Ibadah yang sudah didesain Sang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana untuk mengantisipasi persoalan masyarakat modern.

Hal itu juga bisa menyelesaikan berbagai persoalan dari berbagai aspek, mulai dari aspek individual, sosial hingga spiritual sekaligus. Namun tepenting, seharusnya kita harus terlebih dahulu memahami impelementasi dari puasa seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sehingga ibadah puasa yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan tujuan dari puasa sendiri dan tidak hanya sebatas mendapatkan haus dan dahaga semata, seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Begitu banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka”. Wallahu A’lam. [pin/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar