Magetan (beritajatim.com) – Ada pemandangan berbeda dalam pameran seni Magetan Art Venue di Gedung Tripandita Magetan. Tak hanya seni lukis, ada dua seni instlasi yang turut dipamerkan mulai 25 November 2023 hingga 3 Desember 2023 itu.
Salah satunya karya Agung WHS, perupa asal Jalan Lawu Kelurahan/Kecamatan Maospati Magetan. Dirinya menggunakan gabah total satu ton yang dibiarkan menggunung di lantai Gedung Tripandita. Ada pula lesung yang dia pinjam dari Pemkab Magetan.
Diatas lesung dan gabah, ada ani-ani atau alat prmotong padi tradisional. Tak berukuran kecil seperti aslinya, ukuran ani-ani tersebut terbilang raksasa. Karya itu bertajuk In Memoriam.
“Saya ingin memperkenalkan budaya Indonesia yang sudah tinggal kenangan atau In Memoriam. Yakni, ada ani-ani yang digunakan untuk memanen padi sebelum petani di masa lalu mengenal mesin pemanen padi. Berikut, lesung untuk menumbuk gabah jadi beras, sebelum ada mesin gilingan gabah,” kata Agung, Sabtu (25/11/2023).
Memang, cara yang dilakukan petani saat ini jauh lebih efektif dan efesien ketimbang menggunakan alat-alat jadul itu. Namun, sebagai seniman dia tergugah untuk kembali memperkenalkan pada generasi muda, jika dulu alat itulah yang digunakan para petani untuk memanen padi dan membuat gabah jadi beras.
“Untuk gabahnya ini saya pinjam pada masyarakat Desa Sumberdodol Panekan. Kebetulan, Pak Kades Sumberdodol bersedia membantu saya. Untuk lesungnya ini sebenarnya inventaris Pemkab Magetan yang sudah diletakkan di gedung ini sejak lama. Saya pun tanggap dan memilih menggunakannya untuk pameran. Nah, untuk ani-ani raksasa ini saya bikin sendiri,” lanjut pria 46 tahun itu.
Agung sebenarnya kecewa karena istilah ani-ani sekarang jadi konotasi negatif yang berarti wanita simpanan kelas kakap. Padahal, ani-ani dulu dikenal sebagai alat untuk memanen padi yang notabene jadi salah satu budaya Indonesia yang tak boleh dilupakan. “Mungkin istilah konotasi negatif itu asal jadi. Tapi, saya ingin kenalkan kalau sebenarnya ani-ani itu alat untuk memanen padi. Adanya ani-ani dulu sangat berarti bagi petani kita,” terangnya.
Pun, dengan cara itu, dia ingin memberikan contoh pada siapa saja yang berminat pada seni bahwa tak harus beli cat mahal dan banyak. “Pakai benda-benda sederhana saja sudah cukup dan nyatanya bisa,” pungkasnya.
Usai pameran nanti, padi yang dipinjamnya bakal dikembalikan pada para petani di Desa Sumberdodol. Kemudian, ani-ani gigantic itu rencananya disumbangkan pada Pemerintah Desa Sumberdodol yang telah membantunya mempersiapkan pameran. [fiq/kun]
BACA JUGA: Harga Cabai Magetan Rp100 Ribu/Kg, Nyaris Samai Harga Daging Sapi






