Gaya Hidup

Melihat Penangkaran Rusa Bawean, Dulu Diburu Warga Kini Malah Berkembangbiak

Penangkaran Rusa Bawean

Gresik (beritajatim.com)– Rusa Pulau Bawean atau lebih dikenal ‘Axis Kuhlii’ habitatnya kini terus bertambah. Rusa berbadan pendek tersebut, tidak ditemukan di daerah lain. Ciri khas rusa ini sama dengan rusa lainnya. Namun, yang membedakan cuma postur tubuh dan bulunya.

Rusa Bawean yang kini ditangkarkan di kawasan hutan lindung. Tepatnya, di Desa Pudakit, Kecamatan Sangkapura dikelilingi beberapa blok gunung. Yakni, gunung besar, alas timur, teneden, dan payung-payung.

Untuk melihat rusa tersebut bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda dua, atau empat. Jalanan berliku dan sempit. Butuh andrenalin tersendiri menuju ke penangkaran rusa.

Menurut Sudirman (64) salah satu warga setempat menceritakan dulu rusa ini banyak diburu warga hanya demi mendapatkan dagingnya yang lezat saat dimasak. Namun, dibenak diri Pak Dirman sapaan akrabnya. Dirinya iba melihat rusa satu-satunya binatang asli Pulau Bawea bisa habis jika tidak segera dilestarikan.

“Awalnya saya melestarikan rusa ini tahun 1999 saat ada yang betina turun dari gunung dikejar-kejar anjing. Rusa yang dikejar itu hamil oleh masyarakat mau dipotong dagingnya. Melihat hal itu saya ganti dengan uang Rp 1 juta agar tidak punah,” ujarnya, Rabu (9/06/2021).

Selang beberapa lama kemudian, Sudirman terus bertekad agar rusa yang gemar makan daun nangka serta kacang-kacangan tersebut bisa diselamatkan karena ini merupakan endemik satu-satunya yang asli asal Pulau Bawean.

“Saya terpanggil bagaimana menyelamatkan binatang ini. Kemudian dibuat penangkaran sederhana sambil mengembangbiakan rusa betina yang akan melahirkan,” ungkapnya.

Penangkaran Rusa di Pulau Bawean

Masih menurut Sudirman, berkat kerja kerasnya merawat rusa itu. Dirinya, mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik, berangkat haji dengan istrinya.

Kondisi penangkaran Rusa Bawean juga berubah. Warga bisa melihat dari dekat binatang tersebut yang pernah dijadikan maskot Asian Games tahun 2018. Di dekat penangkaran juga dibangun semacam warung. Sehingga, bisa melihat keindahan alam Pulau Bawean dari atas bukit sambil menikmati minuman hangat atau dingin.

Nur Syansi Kepala Resort Konsenvarsi IX Wilayah Pulau Bawean, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menuturkan, saat ini ada 30 ekor rusa. Dari jumlah itu, didominasi rusa betina. Tapi, masih ada 400-an rusa liar yang hidup di hutan.

“Semula ada 17 ekor rusa yang ditangkarkan jumlah terus bertambah. Satu tahun kami bisa mengembangbiakan 7 hingga 8 ekor rusa yang ditangkarkan,” tuturnya.

Keberadaan Rusa Bawean yang ditangkarkan itu menjadi perhatian banyak peneliti. Sejumlah peniliti pelestari lingkungan baik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) maupun negara lain seperti Belanda, dan Singapura pernah meneliti rusa ini.

Selain menangkarkan rusa, lahan seluas 4.536,56 hektar itu, juga ada beberapa spesies binatang lain misalnya babi kutil dan elang. (dny/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar