Gaya Hidup

Persiapan Detik-detik Peringatan Waisak di Maha Wihara Majapahit

Mojokerto (beritajatim.com) – Maha Vihara Mojopahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mulai melakukan sejumlah persiapan jelang Hari Raya Waisak. Termasuk membersihkan rupang Budha tidur dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter tersebut.

Namun dalam peringatan puncak Hari Raya Waisak yang jatuh pada tanggal 19 Mei 2019 pukul 04.11 WIB, ada yang berbeda. Pasalnya, adanya perabuhan (pembakaran) replika rupang Budha tidur yang terbuat dari kardus. Replika patung Budha tidur ini sudah empat tahun berada di Maha Wihara Majapahit.

Upasaka Pandita Dharmmapalo (UP), Saryono mengatakan, Waisak ke 2563 tahun 2019 persiapan yang dilakukan hampir sama dengan tahun sebelumnya. “Karena ini menjadi agenda rutin tapi tahun, pembersihan rupang atau patung dan persiapan altar untuk ritual,” ungkapnya, Jumat (27/5/2019).

Masih kata Saryono, pembersihan rupang Budha tidur yakni dengan air dicuci dan disabun kemudian dibersihkan dengan air. Detik-detik peringatan Waisak tahun 2019 jatuh pada hari Minggu (19/5/2019) pukul 04.11 WIB dengan tema ‘Mencintai Tanah Air Indonesia’.

“Sehingga rangkaian acara akan dimulai sejak pukul 02.30 WIB. Rangkaiannya, mulai prada sina yakni mengitari komplek Maha Wihara, memandikan rupang Budha kecil, kerja bakti, pembacaan doa dan mantra serta ceramah pesan Waisak,” katanya.

Setelah itu, lanjut Saryono, akan dilakukan mediasi selama kurang lebih 20 menit sebagai puncak detik-detik Waisak. Menurutnya, menang peringatan Waisak kali ini ada yang berbeda dengan perabuhan (pembakaran) replika rupang Budha tidur yang terbuat dari kardus.

“Replika rupang Budha tidur dari kardus ini sudah ada empat tahun di Mana Wihara Majapahit, daripada rusak sehingga diikutkan dalam rangkaian kegiatan detik-detik peringatan Waisak. Yakni dengan cara dibakar, untuk ukurannya sendiri 6 meter,” jelasnya.

Saryono menambahkan, pada puncak peringatan detik-detik Waisak tahun 2019 diperkirakan umat Budha yang datang ke Maha Wihara Majapahit akan berkurang dibanding tahun sebelumnya. Karena acara berbarengan dengan acara di Surabaya yang dihadiri Walikota Surabaya.

Waisak sendiri memperingati tiga peristiwa yakni lahir, pencerahan dan meninggal. Patung Budha tidur di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto tersebut dibangun tahun 1993 dengan bahan cor yang dibuat oleh seniman dari Solo dan dibantu seniman asli Mojokerto.

Pembangunannya secara manual dan merupakan terbesar ketiga se-Asea Tenggara setelah Thailand dan Kamboja. Namun baru dicat tahun 1999 dengan seluruh bagian patung dicat warna kuning keemasan. Warna kuning emas karena Budha dalam agama Budha sebagai pencetus ajaran Budha, simbol warna emas adalah yang paling bagus.

Sedangkan di bagian bawah patung terdapat relief-relief yang menggambarkan kehidupan Buddha Gautama. Yakni hukum karmaphala dan hukum tumimbal lahir. Posisi tubuh patung sendiri berbaring miring menghadap ke arah selatan dan kepala bersandar di atas bantal yang disangga menggunakan lengan kanannya.

Posisi tersebut merupakan posisi saat Budha saat meninggal dunia. Patung Budha ada di setiap wihara, baik kecil maupun besar. Yang membuat orang banyak bertanya dibangun sebesar ini karena dasar tempat ibadah, sisi historis Majapahit besar keyakinan Budha dan Hindhu. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar