Surabaya (beritajatim.com) – Ada yang berbeda dalam sajian musik karawitan di pendopo Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Selasa (12/07/2022) malam.
Jika biasanya musik karawitan dihasilkan dari alat musik yang berbahan logam, berbeda dengan tampilan musik karawitan yang ditampilkan oleh salah satu mahasiswa tingkat akhir STKW, Soumi Aulia Al-Haqqi.
Dengan karya berjudul Deling Kembang, Suara khas alunan musik bambu begitu berbeda jika dibandingkan dengan musik gamelan berbahan logam pada umumnya.
Dengan menampilkan 3 penyanyi dan sejumlah pengrawit, penampilan pertunjukan musik dipadukan dengan visual dan penataan panggung yang penuh dengan ornamen bambu mampu menghipnotis penonton malam itu.
Dihubungi beritajatim.com pada Kamis (14/07/2022), Soumi atau akrab dipanggil Omeng mengatakan, jika pemilihan bambu sebagai pengganti alat musik tidak lepas dari kesenian dari daerah asalnya Banyuwangi.

Selain itu, keberadaan bambu yang melimpah, membuat Ia bereksperimen untuk membuat karya musik yang berbeda tetapi tidak meninggalkan esensi kebudayaan Banyuwangi.
“Saya ingin memperluas ricikan alat musik Saron, Peking, Pantus dan Biola yang terbuat semua dari bambu karena wilayah nada dan tekniknya menurut saya bisa dieksplor lagi,” ujar mahasiswa STKW asal Dusun Satriyan Desa Lemahbang Dewo, Rogojampi, Banyuwangi tersebut.
Omeng menjelaskan, untuk pembuatan alat gamelan seperti Demung Sarong Peking dan Biola yang terbuat dari bambu, membutuhkan waktu sekitar 5-6 bulan.
Banyak tantangan ketika ia menggarap alat musik gamelan dari bambu. Namun, kecintaan dan semangatnya pada seni musik terus menyemangatinya untuk bisa menyelesaikan karyanya.
“Kalo bunyi sudah berubah kita harus bikin lagi. Banyak kesulitannya. Saya menggarap ini dibantu teman namanya Mas Ari,” imbuh pria berumur 22 tahun ini.
Ia menjelaskan, jika tidak semua jenis bambu bisa digunakan untuk alat musik. Jenis bambu yang ia pilih adalah bambu duri ori (Bambusa arundinacea) yang sudah kering. Dengan pengetahuan musiknya, ia menyulap 30 batang bambu untuk menjadi alat musik bagi pertunjukan karyanya.
“Pada ricikan alat musik yang saya buat harus menggunakan bambu ori kering. Jadi sekitar 30 batang lah saya buat semuanya ini untuk karya musik yang ditunjukan kemarin,” tegasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kesenian”]
Dalam karya musik Deling Kembang yang ia sajikan, ia bercerita tentang fungsi dari bambu dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bambu bisa digunakan untuk bermusik karena mempunyai bentuk dan nada yang khas.
“Harapannya dengan karya saya ini, supaya bisa menginspirasi pengkarya muda untuk berani keluar dari zona yang ada. Selain itu, ya semoga bisa membantu finansial masyarakat yang nantinya mau belajar dan menggunakan alat musik yang saya buat ini,” tegasnya. (ang/ted)






