Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 60 ogoh-ogoh memeriahkan ritual Tawur Agung di Kabupaten Blitar. Setelah 3 tahun vakum, umat Hindu dari berbagai kecamatan di Kabupaten Blitar kembali menggelar upacara Tawur Agung.
Puluhan ogoh-ogoh tersebut dibuat oleh sejumlah Pura yang berasal dari 22 kecamatan di Kabupaten Blitar. Ukuran dari ogoh-ogoh ini pun bervariatif mulai dari yang sedang hingga besar.
“Ini kegiatan Tawur Agung yang sempat berhenti 3 tahun lah ini kembali dibuka untuk umum kami mengadakan ritual dengan peserta sekitar 60 ogoh-ogoh perwakilan dari masing-masing pura yang ada di Kabupaten Blitar,” kata Ketua Panitia Pawai Ogoh-ogoh Kabupaten Blitar, Setiyoko, Selasa (21/3/2023).
Pawai ogoh-ogoh ini merupakan rangkaian dari perayaan Nyepi bagi umat Hindu, khususnya di Kabupaten Blitar. Sebelum melakukan pawai ogoh-ogoh ini, umat Hindu juga telah melaksanakan upacara Melasti di Pantai Jolosutro Kecamatan Wates Kabupaten Blitar beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga:
1500 Pasangan di Blitar Melangsungkan Pernikahan
“Ini adalah upacara tawur agung yang merupakan rentetan upacara hari raya Nyepi yang diawali kegiatan Melasti di pantai Jolosutro kemarin,” imbuhnya.
Pawai ogoh-ogoh yang kembali digelar setelah 3 tahun ditiadakan akibat pandemi ini pun menarik minat warga sekaligus wisatawan. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah baik dari umat Hindu maupun umat Muslim dan Kristen ikut berbaur dalam pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan dari RTH Wlingi menuju ke utara lewat depan Pasar wlingi.
Dari Pasar wlingi ke barat lewat Jl Merapi lalu belok ke selatan lewat Jl Raya Bening, lalu belok ke timur lagi lewat Jl tembus dan kembali ke RTH Wlingi. Menurut panitia ada sedikit kendala dalam pelaksanaan pawai ogoh-ogoh tahun 2023 ini.
Pasalnya jalur yang digunakan untuk pawai ogoh-ogoh kali ini adalah jalur kabupaten yang memiliki Jalan relatif kecil juga dibandingkan dengan jalan provinsi. Akibatnya ogoh-ogoh yang di Arab jauh lebih kecil jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Meski begitu pihak panitia dan umat Hindu tetap menerima aturan tersebut dan memperkecil ukuran ogoh-ogoh agar tidak mengganggu aktivitas lalu lintas di jalur Kabupaten.
Baca Juga:
Jembatan Blitar-Malang Bakal Diperbaiki Akhir Tahun
“Jadi kita dikasih rute jalur kabupaten yang itu akan berpengaruh pada besarnya ogoh-ogoh Jadi biasanya kan ogoh-ogoh itu kesannya besar ini dikecilkan lagi, kita tekankan lagi dari panitia agar sound systemnya kecil biar tidak mengganggu,”
Umat Hindu di Kabupaten Blitar pun berharap ada perhatian lebih dari pemerintah Kabupaten Blitar. Pasalnya selain menjadi ritual umat Hindu dalam rangkaian hari raya Nyepi kegiatan pawai ogoh-ogoh ini juga sudah masuk ke dalam agenda wisata tahunan Kabupaten Blitar.
“Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah Kabupaten Blitar karena ini menjadi salah satu atau sekaligus agenda wisata,” pungkasnya.
Masyarakat Hindu meyakini Tawur Agung sendiri merupakan bentuk penyucian diri dan lingkungan dari unsur negatif yang ada di kehidupan ini. [owi/beq]






