Banyuwangi (beritajatim.com) – Penambahan pasokan gas elpiji 3 Kg di Banyuwangi sudah diteken antara pemda setempat dan Pertamina. Jumlahnya tak tanggung-tanggung ada tambahan sekitar 32 persen dari jumlah sebelumnya.
Meski demikian, dampak yang dirasakan bagi masyarakat masih belum begitu terasa. Salah satunya yang terjadi di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.
Warga di desa ini justru lebih memilih membeli atau mencari kayu bakar untuk kebutuhan masak sehari-hari. Pasalnya, hal itu dinilai cara yang efektif untuk solusi langkanya gas elpiji 3 Kg.
Sukar salah seorang warga menyebut, dirinya memilih menghidupkan tungku kayunya dari pada harus antre mencari gas. Pasalnya, hal itu dinilai kurang masuk akal.
Bahkan, dirinya menyebut dari pada berjam-jam mencari gas elpiji 3 Kg, mending mencari kayu di hutan. Atau, paling tidak membeli kayu di kediaman warga lainnya. “Ya kalau menurut saya lebih murah pakai kayu. Apalagi dekat hutan sini kan banyak,” kata Sukar.
Namun demikian, Sukar mengaku tak mudah untuk memulai kembali kebiasaan lama tersebut. Akan tetapi, ada sisi positif dari penggunaan kayu.
Karena, dirinya bisa berhemat banyak rupiah dari pada membeli gas elpiji 3 Kg. Menurutnya, satu ikat kayu bakar seharga Rp12 ribu hampir setara dengan penggunaan gas melon subsidi. “Tapi ya itu ribet mungkin ya. Masih mending lah daripada antri panjang terus katanya harus pakai KTP dan KK juga sekarang,” ujarnya. (rin/kun)
BACA JUGA:
Berhasil Tekan Inflasi, Banyuwangi Dapat Dana Insentif Rp. 12,29 Miliar






