Magetan (beritajatim.com) – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tak hanya berdampak bagi peternak sapi namun juga pengusaha warung makan. Paling terdampak adalah pedagang rawon yang menggunakan daging sapi sebagai bahan utama.
Seperti dituturkan, Lilik Setyowati, salah satu penjual rawon di Desa Nitikan, Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Dia mengeluh sepi pembeli lantaran banyak yang khawatir dengan penyakit PMK.
Padahal, dia menegaskan daging sapi terkena PMK tetap aman dikonsumsi. Syaratnya, daging dimasak hingga matang.
“Sejak adanya PMK, jadi sepi. Padahal kami berani menjamin kalau daging aman. Daging sapi yang terkena PMK itu tetap aman dikonsumsi selama direbus. Kalau untuk rawon kan pasti dimasak sampai matang. Kami pastikan aman. Tapi, masyarakat masih ada yang takut beli,” kata Lilik pada beritajatim.com, Selasa (21/6/2022)
Sejak gencar kabar PMK, Lilik mengaku usahanya sepi. Omzet yang tadinya mencapai Rp1 juta per hari kini tinggal Rp400 ribu.
Rawon sebagai menu andalan juga jarang dipesan. Padahal dalam sehari dia bisa memasak daging hingga 2,5 kilogram.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit-pmk”]
Lilik membenarkan jika warungnya sempat disambangi Bupati Magetan Suprawoto pada 5 Juni 2022 lalu. Pemilik usaha rawon lebih dari 10 tahun itu, tak melewatkan kesempatan untuk menyuarakan keluhannya pada Kang Woto, sapaan akrab Bupati Suprawoto terkait sepinya warung.
Namun, hingga kini dia masih mengeluh sepi pembeli. Kunjungan tersebut belum memberikan hasil.
“Biasanya staf-staf Pemkab Magetan juga ke sini. Mereka biasa pesan rawon. Tapi belakangan belum datang lagi ke sini. Pelanggan juga masih sepi. Pak Bupati bilang kalau dagingnya aman jika dimasak sampai matang. Kami harap masyarakat bisa paham,” kata Lilik.
Dia mengharap jika masyarakat bisa memahami jika penyakit mulut dan kuku tidak menular ke manusia. Baik dari hewan maupun dari daging sapi yang sudah dimasak. (fiq/beq)






