Bondowoso (beritajatim.com) – Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) DPRD Bondowoso menyampaikan pandangan umum terhadap Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2025 dalam rapat paripurna, Rabu (17/9/2025).
Juru Bicara Fraksi PDIP, Sofi Indriasari, menegaskan bahwa perda bukan sekadar regulasi teknis, melainkan instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Bondowoso secara berkelanjutan.
“P-APBD harus memberi kepastian hukum dalam tata kelola pemerintahan dan menjawab kebutuhan rakyat marhaen di atas segalanya,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Fraksi PDIP memberikan sejumlah catatan strategis. Salah satunya mendukung penuh program Universal Health Coverage (UHC) melalui BPJS Kesehatan. Fraksi PDIP mendorong agar pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Kementerian Sosial agar peserta JKN PBI APBN tidak mudah dinonaktifkan. Bahkan, rumah sakit swasta, klinik, hingga dokter praktik diharapkan ikut berkontribusi dengan mengalokasikan CSR mereka untuk menutup premi BPJS bagi masyarakat kurang mampu.
Selain sektor kesehatan, pendidikan juga menjadi perhatian. Fraksi PDIP meminta langkah konkret pencegahan dan penanganan kasus bullying di sekolah, termasuk melalui penguatan karakter dan program sekolah ramah anak.
“Banyak sekolah negeri kondisinya masih jauh dari layak, sementara mutu pendidikan perlu ditingkatkan, terutama di tingkat PAUD, TK, SD, dan SMP,” kata Sofi.
Fraksi PDIP juga menekankan pentingnya pengangkatan tenaga honorer kategori 2 (THK2) menjadi ASN PPPK penuh waktu. “Masih ada sekitar 140 orang di lingkungan Dinas Pendidikan yang tersisa dalam database 2013 dan kini banyak yang mendekati usia pensiun. Ini harus segera dituntaskan,” tambahnya.
Di sisi lain, Fraksi PDIP mengapresiasi kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak dan retribusi yang tidak membebani rakyat, serta langkah efisiensi anggaran dengan memangkas kegiatan yang tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Pada sektor pariwisata, Fraksi PDIP menilai potensi Bondowoso sangat besar, terutama dengan masuknya Kawah Ijen ke dalam kawasan Unesco Global Geopark.
“Potensi ini harus dikelola serius, jangan hanya semangat di awal lalu hilang begitu saja. Era sudah berubah, Bondowoso harus berbenah agar masyarakat tidak hanya jadi penonton tapi juga pelaku pembangunan pariwisata,” tegas Sofi.
Fraksi PDIP menutup pandangan umumnya dengan ajakan untuk bersinergi membangun Bondowoso menjadi daerah yang berkah, maju, dan menyejahterakan rakyatnya. [awi/beq]






