Surabaya (beritajatim.com) – Timnas Inggris kini tengah kembali pada masa keemasan. Dengan skuad mewah dipenuhi pemain berharga fantastis, sang manajer Gareth Southgate seolah tak ingin menyia-nyiakannya. Setelah lima tahun masa kepelatihan, Southgate telah membawa Timnas berjuluk Tiga Singa ini sebagai Semifinalis Piala Dunia 2018 dan UEFA Nations League 2018/19, dan finalis Euro 2020. Hal itu membuktikan bahwa Timnas Inggris di bawah Southgate punya progress yang positif. Bahkan di Piala Dunia Qatar 2022, Timnas Inggris masuk pada daftar favorit untuk menjadi juara.
Lalu bagaimana kecanggihan formula dan tak tik Gareth Southgate menangani Timnas Inggris. Ini dapat dilihat dari fase build-up play. Saat fase build-up play, Declan Rice biasanya akan turun sejajar dengan 2 Centre Beck Inggris dan juga mendorong 2 Fullback untuk naik atau overlap. Ini tentunya membuat area flank tercipta situasi overload atau unggul jumlah pemain, apalagi Inggris sangat mengandalkan sisi lebar sebagai senjata serangan mereka.
Southgate menggunakan dua ball-playing defender. Peran ini cukup krusial bagi skema permainan Southgate, bisa terlihat keberadaan Harry Maguire dan juga Stones. Utamanya Stones yang mahir dalam melakukan distribusi serangan memakai kemampuan passing yang dimiliki saat build play. Sementara Maguire sering mengandalkan dribblingnya untuk melakukan progresi bola ke area lawan apabila melihat celah yang mulai terbuka.
Sisi flank digunakan Southgate sebagai output serangan. Inggris sangat mengandalkan sisi flank sebagai opsi serangan hal ini berdasarkan stats area sisi serangan dari Whoscored di pentas Euro 2020. The Three Lions punya persentase menyerang dari flank kiri sebesar 41% dan flank kanan dengan 36%. Ini juga jadi alasan Southgate memakai fullback bertipe ofensif yaitu Shaw, Walker, dan Trippier.
Dengan sering memanfaatkan sisi flank sebagai motor serangan membuat Inggris memerlukan peran penting gelandang seperti Declan Rice dan Phillips. Mereka bisa diandalkan dalam fase transisi negatif untuk secepatnya memberikan bola ke depan. Peran kedua pemain ini mungkin tidak begitu disorot oleh banyak orang, namun begitu penting, hasilnya bisa terlihat pada Euro 2020.
Sebuah keuntungan untuk Inggris dengan memiliki Mason Mount dan Harry Kane. Sebagai all rounded player membuat Mount punya kebebasan dalam bergerak karena etos kerja yang tinggi. Ia bisa dimanfaatkan guna menarik perhatian lawan bahkan sering bermain melebar untuk menciptakan situasi overload.
Begitu pula Kane yang tidak hanya menetap di kotak dua belas pas saja untuk menunggu bola, striker andalan Spurs itu juga rajin untuk turun ke area tengah hingga belakang saat melakukan build up play. Kecanggihan itu yang membuat Timnas Inggris, jadi favorit juara di Piala Dunia Qatar 2022, mampukah Kane dan kawan kawan mewujudkan puasa gelar Inggris ang sangat panjang? Tunggu aksinya di Piala Dunia 2022. [dan/esd]






