Ringkasan Berita:
- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menggelar program Flexible AirCare di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar, untuk memperkuat deteksi dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.
- Sebanyak 26 pasien anak dengan indikasi PJB menjalani pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung oleh tim FK Unair bersama konsultan dari Surabaya.
- FK Unair juga mengadakan seminar dan workshop untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di Kabupaten dan Kota Blitar.
- Dokter mengingatkan pentingnya deteksi dini PJB sejak masa kehamilan, terutama melalui pemeriksaan USG pada trimester pertama.
Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 26 anak dengan indikasi Penyakit Jantung Bawaan (PJB) menjalani pemeriksaan jantung di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Sabtu (31/10/2026). Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari program Flexible AirCare (Airlangga Integrated Community Health, Access and Equity) yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) untuk memperluas akses deteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, FK Unair berupaya mendekatkan layanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten dan Kota Blitar. Selain pemeriksaan pasien, kegiatan tersebut juga menyasar peningkatan kemampuan tenaga kesehatan setempat dalam mengenali dan menangani indikasi PJB.
Dokter Spesialis Anak, dr. Taufiq Hidayat, menjelaskan bahwa Flexible AirCare merupakan program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun dengan lokasi berbeda. Tahun ini kegiatan dipusatkan di Blitar setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Nganjuk.
“Kegiatan pengabdian masyarakat ini rutin kami lakukan setiap tahun bergeser ke berbagai kabupaten/kota. Tahun lalu di Nganjuk, tahun ini di Blitar, dan tahun depan kita agendakan ke daerah lain,” ujar dr. Taufiq.
Dalam pelaksanaannya di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, kegiatan mencakup seminar dan workshop bagi tenaga kesehatan setempat. FK Unair juga memberikan layanan pemeriksaan deteksi dini menggunakan ekokardiografi atau USG jantung.
Pemeriksaan tersebut ditangani langsung oleh tim sejawat FK Unair bersama konsultan dari Surabaya. Tercatat sekitar 26 pasien anak dengan indikasi PJB mendapatkan pemeriksaan lebih mendalam dalam kegiatan tersebut.
Menurut dr. Taufiq, deteksi dini menjadi bagian penting dalam penanganan penyakit jantung bawaan. Berdasarkan gambaran epidemiologi yang disampaikannya, angka kejadian PJB rata-rata ditemukan pada satu dari setiap 100 kelahiran hidup.
Dengan angka kelahiran di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 5 juta bayi setiap tahun, potensi kasus PJB diperkirakan menyentuh 50.000 bayi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan sejak dini agar anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat segera memperoleh layanan yang sesuai.
“Jika di Indonesia angka kelahiran mencapai sekitar 5 juta bayi per tahun, maka diperkirakan ada sekitar 50.000 bayi yang lahir dengan potensi PJB. Karena itu, penanganan dan deteksi dini sangat krusial agar rujukan ke pusat penanganan jantung lanjutan seperti di Surabaya bisa berjalan optimal,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Taufiq juga mengapresiasi kesiapan fasilitas kesehatan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Menurutnya, fasilitas penunjang medis di rumah sakit tersebut semakin baik, termasuk keberadaan alat Cath Lab atau kateterisasi jantung bantuan dari Kementerian Kesehatan.
Ketersediaan fasilitas tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan layanan jantung di daerah. Dengan demikian, kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan dan mendukung penanganan pasien jantung dapat semakin ditingkatkan.
Selain pemeriksaan terhadap pasien anak dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dr. Taufiq mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap risiko PJB sejak masa kehamilan.
Ibu hamil dianjurkan memperhatikan pemeriksaan kesehatan janin, termasuk skrining menggunakan USG kehamilan. Pemeriksaan pada trimester pertama menjadi salah satu tahapan yang disarankan untuk mendeteksi kemungkinan kelainan sejak awal.
Upaya deteksi tersebut diharapkan membantu mengidentifikasi potensi masalah kesehatan sehingga penanganan dan tindak lanjut medis dapat direncanakan lebih dini.
“Harapannya, melalui kolaborasi dengan RSUD Ngudi Waluyo ini, layanan kesehatan jantung anak di Blitar bisa semakin meningkat. Selain itu, upaya pencegahan lewat deteksi dini pada masa kehamilan juga sangat dibutuhkan untuk menekan angka kejadian PJB sejak awal,” pungkasnya.
Melalui Flexible AirCare, FK Unair berharap peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, pemeriksaan jantung anak, dan penguatan fasilitas layanan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dapat berjalan beriringan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelayanan kesehatan jantung anak, terutama bagi masyarakat di wilayah Blitar yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. [owi/beq]






