Malang (beritajatim.com) – Festival Sastra Kota Malang (FSKM) 2024 mengusung tema “Jelajah Cita Rasa,” berlangsung dengan penuh antusiasme selama empat hari, mulai Kamis (26/9/2024) hingga Minggu (29/9/2024). Festival ini tidak hanya menampilkan karya sastra, tetapi juga menghubungkan aspek kuliner, sejarah, dan budaya Indonesia, menjadikan sastra sebagai alat untuk mengeksplorasi tentang gastronomi.
Berbagai komunitas sastra dan seniman turut berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan di Critasena Coffe. Para penulis sastra turut meramaikan festival ini. FKSM 2024 diisi dengan berbagai rangkaian acara. Mulai dari diskusi, penampilan teater, puisi, penampilan memasak, pasar buku, juga mengajak anak-anak untuk turut bersastra.
Hari pertama festival dibuka di Critasena, Malang, pada Kamis sore. Penampilan Tari Tempe Sanan menjadi sajian pembuka yang menarik perhatian pengunjung. Tari ini terinspirasi dari kuliner khas Malang, tempe, yang menunjukkan bagaimana elemen gastronomi bisa diangkat ke panggung seni.
Pada pembukaan ini, Prof. Dr. Djoko Saryono juga menyampaikan orasi berjudul “Setumpeng Orasi,” yang membahas hubungan antara sastra dan gastronomi. Ia menyoroti bahwa kedua bidang ini sering dipisahkan oleh budaya modern, padahal dapat saling melengkapi. “Budaya kita harus menyatukan estetika gastronomi dan sastra, dua elemen yang dapat memperkaya pengalaman budaya kita,” ujar Prof. Djoko.
Pada hari kedua, Jumat (27/9/2024), acara bertajuk “Santap Gagasan: Sajian Gastronomi dalam Puisi-Puisi Indonesia” digelar di Lahan Sastra Critasena Coffee. Diskusi ini menghadirkan Hasta Indriyana dan Rozi Kembara sebagai narasumber, dengan Michael Djayadi sebagai moderator.
Tema yang diangkat mengeksplorasi keterkaitan antara gastronomi dan puisi, yang ternyata memiliki hubungan erat dalam memori, simbolisme, dan identitas budaya. Hasta Indriyana menjelaskan bahwa makanan dalam puisi sering kali tidak hanya tentang rasa, tetapi juga mengandung kenangan dan pengalaman pribadi yang mendalam.
“Kuliner membawa kita kembali ke momen-momen penting dalam hidup, seperti kebersamaan di meja makan, kenangan bersama orang-orang tercinta, atau bahkan rasa kehilangan dan nostalgia,” kata Hasta.
Sementara itu, Rozi Kembara menyoroti aspek sejarah dan budaya dalam kuliner yang diangkat dalam puisi. Ia menyebutkan bagaimana makanan seperti kopi luwak dan kecap manis memiliki sejarah panjang yang mencerminkan identitas budaya dan perjalanan suatu masyarakat.
Pada hari ketiga, Sabtu (28/9/2024), FSKM menyajikan kegiatan sastra ramah anak melalui acara “Cita Rasa Gang Gang Kajoetangan” dan “Dapur Cerita: Hidangan Si Ketjil dalam Meracik Cerita.” Kegiatan ini memberikan pengalaman menarik bagi keluarga, terutama anak-anak, untuk mengeksplorasi kawasan bersejarah Kayutangan dan menyalurkan kreativitas melalui penulisan cerita.
Tur edukatif bersama Jelajah Malang mengajak peserta untuk memahami sejarah Kayutangan, mengunjungi bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh, hingga merasakan suasana Malang tempo dulu di tempat-tempat seperti Kopi Lonceng dan Kopi Jingkrak.
Setelah menjelajah, anak-anak diajak berpartisipasi dalam sesi “Dapur Cerita” di mana mereka diajak membuat cerita dari ide-ide menarik yang diberikan oleh Reda Gaudiamo, penulis cerita anak.
Hari terakhir FSKM, Minggu (29/9/2024), ditutup dengan perjamuan “Santap Karya” bersama penulis Yusri Fajar dan Yusi Avianto Pareanom. Diskusi ini membahas cita rasa dalam novel “Pengantin-Pengantin Loki Tua” dengan panduan dari moderator Wida Purnama.
Selain itu, ada juga pembahasan buku “Jelajah Rasa Nusantara” bersama penulis Ary Budiyanto, yang dipandu oleh Wawan Eko Yulianto. Acara ditutup dengan penampilan teater dan tari oleh Opo Iki Theater, Malang Dance Company, Kaki Meja, Kelompok Bermain Mlebu Metu, Tengsoe, dan Splendid Dialog, memberikan kesan mendalam bagi para peserta festival.
Dewi R. Maulidah, Manajer Festival Sastra, menjelaskan tema festival tahun ini, Jelajah Cita Rasa. “Kami memilih tema ini karena kami ingin menonjolkan hubungan erat antara sastra dan kuliner, dua hal yang dapat menggugah rasa dan pemikiran.”
Tema Jelajah Cita Rasa sendiri merupakan rangkaian kata kunci untuk dapat mempertemukan para penulis, pembaca, pengamat, penikmat sastra, hingga pelaku sastra untuk saling berbagi pengetahuan kesusastraan.
“Jelajah Cita Rasa juga berhubungan dengan perjalanan dan jamuan, budaya kuliner atau pangan. Kami mengaitkan dengan wisata kuliner yang bersejarah atau bermakna, baik secara lokal maupun domestik rumah sebagai cakupan gastronomi sastra,” tutur Dewi.
Denny Mizhar, Ketua Komunitas Pelangi Sastra Malang, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran komunitas sastra dalam membangun ekosistem kesastraan di Malang. Ia berharap ada banyak lagi komunitas-komunitas sastra dan nanti ya bisa berbagi peran dalam menghidupkan kesusastraan di kota Malang. Festival Sastra Kota Malang, dulunya bernama Pekan Sastra Kota Malang, salah satu dari banyak ruang di kota Malang. Semoga bisa terus ada Festival Sastra Kota Malang.
“Saat ini kota Malang dan masyarakatnya telah memberikan ruang-ruang kreatif itu sehingga Pelangi Sastra Malang dapat menyelenggarakan Festival Sastra bertema Jelajah Cita Rasa di tempat ini,” jelasnya.
Radit dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyampaikan bahwa komunitas Pelangi Sastra Malang bisa menjadi penggerak dalam memfasilitasi ekspresi kreatif anak-anak muda, sekaligus menjadi penguat dalam membangun karakter bangsa.
“Dengan adanya ruang gerak kreatif di kota ini, anak-anak muda memiliki wadah untuk berekspresi, menyalurkan minat dalam hal sastra, seni, dan hal-hal positif lainnya,” ungkap Radit.
Festival Sastra Kota Malang 2024 berhasil mengangkat sastra ke tengah masyarakat dengan cara yang berbeda dan menarik. Menggabungkan aspek sastra dengan gastronomi, kegiatan ramah anak, dan penjelajahan budaya lokal, FSKM memberikan ruang bagi semua kalangan untuk terlibat, menikmati, dan mengeksplorasi makna di balik kata-kata.
Dengan semangat ini, diharapkan sastra akan terus hidup dan berkembang, menjadi bagian penting dari identitas budaya kota Malang. Kehadiran Pelangi Sastra sebagai sebuah komunitas tentu memiliki dampak yang baik dalam membangun ekosistem kesastraan di daerah.
“Pelangi Sastra juga dapat menjadi penggerak sekaligus penguat dalam membangun karakter bangsa, khususnya di kota Malang. Kemudian dengan adanya komunitas sastra, anak-anak muda memiliki wadah untuk berekspresi, menyalurkan minat dalam hal sastra, seni, dan hal-hal positif lainnya,” kata Radit.

Komunitas ini perlu ruang gerak di mana ekspresi mereka dapat disalurkan dengan lebih bijak, perlu ruang bersama di mana ada diskusi yang saling membangun, menguatkan, dan berbagi bersama “Ketika saya melihat anak-anak muda di Pelangi Sastra ini, saya jadi teringat pidato Bung Karno. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” ujarnya.
Dari sini, ia bisa melihat bahwa anak-anak muda di Pelangi Sastra ini memiliki semangat, kreativitas, inovasi, dan kedisiplinan. Komunitas sastra ini memerlukan ruang gerak kreativitas untuk menunjukkan eksistensi mereka.
Festival Sastra Kota Malang diselenggarakan oleh komunitas Pelangi Sastra Malang dengan fasilitasi Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Kesastraan: Penguatan Komunitas Sastra Tahun 2024, selain itu berkolaborasi dengan patjarmerah dan komunitas-komunitas di Malang. (dan/kun)






