Ponorogo (beritajatim.com) – Festival Grebeg Suro 2025 di Ponorogo tak hanya diramaikan dengan suara gamelan dan gemuruh dari Reog Ponorogo. Ada warna lain yang hadir di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto. Yakni berupa kanvas-kanvas yang terbentang, kuas menari, dan warna-warna hidup dituangkan langsung dari suasana nyata.
Festival Melukis On the Spot menjadi salah satu bagian dari rangkaian Grebeg Suro tahun ini. Sebanyak 50 peserta dari beragam latar belakang turut ambil bagian. Ada pelajar, lansia dari berbagai latar belakang, hingga seniman profesional. Mereka tak hanya melukis, tapi juga menyatu dengan hiruk pikuk kota.
“Ini luar biasa. Masyarakat bisa melihat proses melukis secara langsung. Kita berbaur, kita belajar bersama,” kata salah satu peserta, Imam Subandi, ditulis Minggu (22/6/2025).
Para peserta diberi kebebasan memilih objek lukisan. Mulai dari wajah-wajah pengunjung, deretan toko tua, hingga suasana lalu lalang kendaraan. Media yang digunakan berupa kanvas putih, dan waktu berkarya dimulai dari pagi hingga sore hari.
Menurut Imam, teknik melukis langsung di tempat alias on the spot punya tantangan tersendiri. Selain harus fokus di tengah keramaian jalan, pelukis juga harus tahan mental ketika dilihat banyak orang.
“Ini jadi latihan mental juga. Kita dilihat banyak orang, tapi harus tetap fokus menyelesaikan lukisan,” katanya.
Koordinator acara, MA Fathurrohman, mengaku tidak menyangka antusiasme warga sangat tinggi. Bahkan jumlah pendaftar melebihi kuota awal yang ditetapkan.
“Pesertanya membludak. Ini di luar ekspektasi kami. Ternyata kecintaan masyarakat Ponorogo terhadap seni lukis cukup tinggi,” ungkapnya.
Hasil karya para peserta nantinya akan dipamerkan hingga 30 Juni 2025. Tujuannya tak hanya mengapresiasi para pelukis, tapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat luas.
Salah satu peserta, Carissa Luveena Olivia, mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Pelajar SMA berumur 16 tahun itu menuturkan bahwa lukisan miliknya bertema “One Purity”, menggambarkan kesucian jiwa manusia.
“Senang sekali bisa ikut. Ini jadi tempat untuk menunjukkan karya. Saya memang suka melukis sejak kecil, terutama dengan media kanvas dan digital,” katanya.
Festival ini menjadi cermin bahwa ruang seni di Ponorogo semakin terbuka. Kreativitas warga dan seniman lokal terus tumbuh, tak hanya di atas panggung, tapi juga di jalanan. Melalui festival sederhana ini, Ponorogo bukan hanya memperingati Grebeg Suro dengan tradisi, tapi juga menorehkan warna baru. Yakni seni rupa bisa menjadi denyut lain dari kota reog. (end/ian)






