Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa waktu lalu dunia maya dihebohkan dengan kemunculan komunitas yang menyimpang. Sebuah grup Facebook bernama Fantasi Sedarah mencuri perhatian publik lantaran isinya yang mempromosikan hubungan inses. Tak main-main, lebih dari 30 ribu akun diketahui tergabung dalam komunitas tersebut.
Fenomena ini tentu saja memicu kekhawatiran masyarakat. Banyak yang mendesak agar pihak berwajib segera menindaklanjuti dan menutup akses komunitas ini. Namun, di balik kemunculan komunitas semacam ini, ada aspek psikologis yang perlu dipahami.
Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Dewi Retno Suminar memandang fenomena ini dari sudut psikologi. Menurutnya, ada berbagai faktor kompleks yang bisa mendorong seseorang tertarik pada perilaku inses.
“Tidak selalu karena trauma,” ujar Dewi, ditulis Selasa (27/5/2025).
Ia menyebut, beberapa memang memiliki pengalaman traumatis dalam relasi sebelumnya, namun sebagian lainnya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang bebas, tanpa batasan relasi fisik. Minimnya sentuhan nilai agama dan moral sejak kecil juga bisa menjadi pemicu.
Selain faktor internal, Dewi menjelaskan bahwa rasa penasaran dan ketidakmampuan menolak ajakan orang lain dapat membuat seseorang terjebak dalam relasi inses, terutama jika ada ketimpangan kuasa yang menyulitkan korban untuk berkata tidak.
Dewi melihat bahwa bisa saja, mereka sebenarnya tidak ingin, tetapi tekanan dan dominasi dalam relasi membuat mereka tidak punya pilihan. “Sehingga terjadi hubungan inses yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Salah satu langkah pencegahan yang penting adalah edukasi sejak usia dini. Menurut Dewi, anak-anak perlu dikenalkan pada batasan fisik dan nilai moral bahkan sebelum masa pubertas.
“Ketika anak sudah baligh, pemisahan tempat tidur antara laki-laki dan perempuan adalah langkah awal yang penting. Sentuhan fisik juga harus mulai dikenalkan batasannya sejak usia dini,” jelasnya.
Topik seperti ini memang sering dianggap tabu, namun Dewi menegaskan bahwa diam bukan solusi. Justru dengan membuka ruang diskusi yang sehat, anak-anak bisa lebih memahami risiko kesehatan dan reproduksi dari hubungan inses.
Sebagai bentuk pencegahan, Dewi menyarankan agar individu, khususnya remaja, aktif mencari komunitas yang sehat secara fisik dan rohani. Komunitas keagamaan, olahraga, hingga permainan daring bisa menjadi wadah yang positif.
“Badan yang sehat dengan sirkulasi oksigen yang lancar membuat pikiran lebih jernih. Dengan begitu, rayuan dari komunitas menyimpang tak akan lagi menarik,” tutupnya. [ipl/ted]






