Ponorogo (Beritajatim.com) – Puluhan kambing di Desa Pomahan, Kecamatan Pulung, Ponorogo, dilaporkan mati secara mendadak dalam beberapa minggu terakhir. Peristiwa ini membuat warga, khususnya para peternak, dilanda kebingungan. Namun, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo memberikan penjelasan terkait fenomena tersebut.
Kabid Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan (PKHP) Dispertahankan Ponorogo, Siti Barokah, memastikan bahwa kematian kambing-kambing itu bukan disebabkan oleh Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Berdasarkan data Dispertahankan, tercatat 40 ekor kambing mati pada Desember 2024 lalu.
“Di Desa Pomahan, sekitar 40 ekor kambing dilaporkan mati,” ungkap Siti Barokah, ditulis Sabtu (4/1/2025).
Menurutnya, cuaca ekstrem yang terjadi pada bulan tersebut menjadi faktor utama di balik kejadian ini. Tingginya intensitas hujan menyebabkan kadar air pada pakan meningkat. Kondisi ini membuat rumput atau pakan yang diberikan kepada kambing menjadi tidak layak konsumsi.
“Pakan yang terlalu basah dimakan kambing, akhirnya menyebabkan kematian. Idealnya, pakan harus dilayukan dulu. Tapi karena saat itu minim sinar matahari, pakan tetap diberikan tanpa proses pelayuan,” jelasnya.
Kondisi pakan yang terlalu basah memicu akumulasi gas di rumen kambing. Gas ini mendesak diafragma hingga memengaruhi fungsi paru-paru dan jantung, yang akhirnya berujung pada kematian mendadak.
“Timpahan gas di rumen membesar, mendesak organ vital seperti paru-paru dan jantung, sehingga kambing mati,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi perhatian besar bagi warga setempat. Para peternak kebingungan karena kambing-kambing mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sebelum mati. Salah seorang peternak, Pandi, mengaku kondisi ini sangat mengkhawatirkan.
“Tidak ada tanda-tanda sakit. Kambing terlihat sehat, tapi tiba-tiba mati. Kami benar-benar bingung harus bagaimana,” ujarnya.
Ketua RT Desa Pomahan, Parno, menyebutkan bahwa kasus ini sudah dilaporkan ke dinas terkait untuk dilakukan pemeriksaan. Warga berharap ada tindakan segera untuk mengidentifikasi penyebab pasti dan memberikan solusi.
Hingga saat ini, peternak masih menanti hasil pemeriksaan dari pihak berwenang. Mereka berharap adanya edukasi terkait pakan dan langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Kami hanya ingin ada langkah penanganan cepat agar kerugian para peternak tidak semakin besar,” tegas Parno. (end/ian)






