Lumajang (beritajatim.com) – Fenomena kematian mendadak atau aratan dilaporkan menyerang puluhan ternak unggas milik warga di Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kematian massal ini dipicu oleh virus Newcastle Disease (ND) yang muncul akibat pengaruh cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir.
Virus ini menyerang sistem imun sehingga membuat ternak lemas, hilang nafsu makan, hingga akhirnya mati mendadak tanpa sempat diobati. Kondisi ini menyebabkan para peternak mengalami kerugian materi yang cukup besar karena ternak mereka mati secara beruntun.
Jumali, peternak asal Desa Sukorejo, terpaksa kehilangan belasan ekor ayam hias yang memiliki nilai jual tinggi akibat serangan wabah ini. Ia mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah karena satu ekor ayam hias miliknya dibanderol seharga Rp750 ribu.
“Jadi, matinya bertahap. Awalnya yang mati 3 ekor ayam, terus kemarin yang terbaru itu dua ekor mati lagi,” terang Jumali saat dikonfirmasi, Sabtu (31/1/2026).
Peternak lainnya di Kecamatan Pasrujambe, Dumiyati, juga melaporkan mengalami fenomena serupa yang mengancam kelangsungan usahanya. Untuk mengantisipasi kerugian total, ia memilih melakukan langkah darurat dengan menjual seluruh ayamnya yang masih terlihat sehat.
“Ya daripada rugi banyak yang mati, mending ayam yang sehat kita jual aja langsung,” ucap Dumiyati.
Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Endra Novianto, menjelaskan bahwa unggas yang terpapar virus ND sangat sulit untuk disembuhkan. Penanganan utama saat ini difokuskan pada isolasi ternak dan pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder yang mematikan.
DKPP mengimbau peternak untuk meningkatkan kebersihan kandang serta memberikan tambahan nutrisi guna memperkuat daya tahan tubuh unggas. Pemberian ramuan alami dan vaksinasi berkala menjadi kunci utama untuk menekan angka kematian akibat serangan virus di masa pancaroba.
“Salah satunya bisa pakai ramuan herbal, dan rutin vaksinasi bagi ternak untuk pencegahannya,” ungkap Endra. [has/beq]






