Jember (beritajatim.com) – Soetriono, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyebut petani tidak mudah menerima inovasi teknologi baru dalam budidaya tanaman.
“Saat ini sebenarnya sudah ada teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tapi masih skala laboratorium. Tinggal bagaimana mentransfer teknologi itu dari skala laboratorium ke petani. Caranya bisa dengan penyuluhan dan pendampingan kepada para petani,” kata Soetriono, sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (1/12/2023).
Menurut Soetriono, masih banyak petani yang melakukan budidaya pertanian berdasarkan pengalaman. “Kalau ada teknologi baru, ada inovasi baru, petani masih berpikir dua tiga kali 3 kali untuk mau menggunakannya,” katanya.
Para petani baru mau meniru dan menggunakan teknologi itu jika sudah ada contoh konkret keberhasilan. “Perlu ada semacam demoplot dulu, karena kalau tidak ada hasil riil akan ogah-ogahan,” kata Soetriono.
Sejauh ini, petani Indonesia mau menggunakan inovasi pemberantasan hama terpadu, atau indeks pertanamanan 300 dan indeks pertanaman 400. “Tapi hasilnya memang belum bisa memenuhi tingkat produksi seperti yang diharapkan peneliti,” kata Soetriono.
Soetriono mengakui, bangsa Indonesia masih perlu belajar tentang teknologi pertanian. “Namun untuk bisa diterapkan di Indonesia harus ada modifikasi dan uji lokasi untuk melihat teknologi tersebut apakah cocok atau tidak diterapkan di Indonesia,” katanya.
Saat ini, Faperta Unej menggandeng PT Bayer Indonesia untuk memunculkan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas hasil tanaman. Salah satu teknologi yang dimunculkan adalah teknologi bibit unggul, bibit yang secara spesifik bisa meningkatkan produktivitas tanaman. Kerja sama ini diawali dengan webinar International on Food Sovereignty: Tecnology For Suistainable Agriculture Development, di Auditorium Fakultas Pertanian Universitas Jember, Kamis (30/11/23). [wir]






