Bojonegoro (beritajatim.com) – Kabupaten Bojonegoro ditunjuk oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melakukan konversi alat dan mesin pertanian (Alsintan) dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Liquefied petroleum gas (LPG).
Program konversi itu, oleh Pertamina Patra Niaga juga telah diantisipasi dengan menambah pasokan LPG di kabupaten penghasil minyak dan gas bumi (migas) ini. Apalagi memasuki musim kemarau, diprediksi penggunaan alsintan akan meningkat.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Bojonegoro-Tuban Fajar Wasis mengatakan, dalam rangka mengantisipasi kekurangan stok LPG dampak konversi alsintan di Bojonegoro pihaknya mengaku telah menambah stok sejak 2023 lalu.
“Untuk konversi itu dari pemerintah juga sudah menambah untuk pasokan LPG. Sebelumnya kuota Bojonegoro 2023 sebesar 40.300 matrik ton, menjadi 40.800 sekian matrik ton,” ujarnya, Kamis (30/5/2024).
Sementara untuk mengantisipasi penggunaan alsintan yang meningkat, terutama untuk kebutuhan irigasi di musim kemarau ini, pihaknya sudah mengantisipasi penambahan stok sejak Maret hingga Mei ini. Selain dari penggunaan alsintan juga pada waktu itu banyak kegiatan masyarakat.
“Antisipasi Pertamina sudah dilakukan Maret, April, dan Mei sudah ditambah penyaluran, terutama saat Ramadan, Idul Fitri, dan Mei ada beberapa agenda resepsi dan hajatan,” imbuhnya.
Selama 3 bulan ini Pertamina Patra Niaga sudah menyalurkan sebesar 102 persen dari kuota bulanan yang ditetapkan. Perbulan, rata-rata penyaluran LPG dalam kondisi normal sebanyak 1 juta tabung. “Untuk tiga bulan ini perbulan ada 1.200 tabung sekian yang disalurkan,” terangnya.
Konversi ke LPG ini juga yang mempengaruhi jumlah permintaan masyarakat naik. Selain itu, juga adanya musik hajatan, sunatan, tahlil haji, dan lain sebagainya. “Selain itu juga adanya panic buying sehingga banyak yang menyetok tabung,” pungkasnya.
Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Helmy Elisabeth mengungkapkan, program konversi BBM ke LPG bagi alsintan itu memang diterapkan di Bojonegoro. Namun, program tersebut merupakan dari Kementrian ESDM. “Itu programnya Kementerian ESDM untuk alsintan pompa,” ungkapnya. [lus]






