Letak geografisnya jauh dari Kota Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur (Jatim). Kabupaten Banyuwangi dan Pacitan adalah dua wilayah paling jauh dari Kota Surabaya, apalagi Jakarta. Banyuwangi di ujung timur dan utara Provinsi Jatim, sedang Pacitan berada di ujung selatan dan barat Jatim. Walau pun lokasinya jauh, Kabupaten Pacitan akhir-akhir ini jadi perbincangan nasional.
Kenapa? Ada dua pertemuan politik penting baru saja dihelat di Pacitan. Pertama, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 RI, bertemu dengan Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pertemuan ini digelar di kampung halaman SBY di Pacitan, Sabtu (20/5/2023) siang. Prabowo juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) RI kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.
Kedua, Bakal Calon Presiden (Bacapres) Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Baswedan, menemui Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pacitan. Pertemuan itu berlangsung selama 3,5 jam di kompleks Museum dan Galeri Seni SBY-ANI, Kamis (1/6/2023). Koalisi ini didukung Partai Demokrat, Partai NasDem, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Jarak Kabupaten Pacitan dari Kota Surabaya sekitar 270 meter. Dibutuhkan tempo sekitar 5 sampai 6 jam untuk mencapai kota itu dari Surabaya. Kabupaten Pacitan berpenduduk sekitar 582 ribu jiwa di pesisir selatan Jawa Timur.
Kabupaten Pacitan berbatasan dengan Provinsi Jateng. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri (Jateng) di sebelah barat. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Ponorogo di sebelah timur. Di sebelah selatan dengan Samudera Hindia.
Daerah ini sebagian besar wilayahnya berupa karst, yakni bagian dari rangkaian Pegunungan Sewu. Tanah tersebut kurang cocok untuk pertanian. Pacitan kaya bahan tambang dengan bebatuan yang berusia ribuan tahun.
Ketokohan SBY di Partai Demokrat sangat kuat. Dia pendiri, deklarator, dan pengendali utama partai Tengah dalam lanskap politik nasional. Partai dengan kredo ideologi politik Nasionalis-Religius ini pernah memenangkan kontestasi politik nasional tahun 2009. Raihan suaranya lebih dari 20 persen.
SBY tak mungkin dilepaskan dari Pacitan. Daerah ini tempat kelahirannya. Ayahanda SBY, Soekotjo, berkarir militer, menapaki kehidupan keseharian, meninggal dunia, dan dimakamkan di daerah ini.
Sejak Pemilu 2004 hingga pesta demokrasi 2019, Partai Demokrat, wadah politik yang didirikan SBY, selalu tampil sebagai pemenang di Pacitan. Pada Pileg 2019, Partai Demokrat Pacitan merebut 14 kursi DPRD setempat. Dominasi politik Partai Demokrat di daerah ini belum tergoyahkan hingga Pemilu 2019.

Belum tergantikan posisi sentral dan pengaruh besar SBY di Partai Demokrat. Sekali pun ketua umum partai ini adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra sulung SBY. Kata putus masalah-masalah strategis, seperti rencana koalisi menghadapi Pilpres 2024 dan penentuan figur capres-cawapres yang akan didukung Partai Demokrat, tak mungkin lepas dari arahan dan petunjuk SBY.
SBY merupakan politikus senior (aging politicians) di Indonesia, selain Prabowo Subianto (Partai Gerindra), Megawati Soekarnoputri di PDIP dan Surya Paloh di Partai NasDem. Keempat politikus gaek ini mempunyai pengaruh politik yang dominan di rumah tangga partainya masing-masing.
Partai Gerindra identik dengan Prabowo. SBY sama dengan Partai Demokrat. PDIP tak mungkin dilepaskan dari nama Megawati, dan ketokohan Surya Paloh begitu dominan di Partai NasDem. Keempat politikus senior itu berusia 70 tahun lebih.
Di era kekinian, jagat politik Indonesia didominasi para politisi berusia di atas 60 tahun, dan banyak di antaranya sudah lebih 70 tahun. Mereka malang-melintang dalam kancah politik Indonesia sejak masa Orde Baru kemudian melintasi masa Reformasi yang kini sudah masuk dasawarsa ketiga.
Para politikus senior ini, meminjam ungkapan yang lazim dalam politik Amerika Serikat, disebut aging politicians. Politisi lanjut usia atau politisi yang sudah dimakan umur. Formasi struktur kepemimpinan puncak partai di Indonesia didominasi politikus tua, politisi senior yang sudah banyak makan asam garam jagat politik Indonesia.
Istilah populer lain untuk menggambarkan fenomena ini adalah gerontokrasi: keadaan politik dan pemerintahan di mana yang berkuasa orang-orang yang secara signifikan lebih tua dibanding rata-rata populasi dewasa. Salah satu dampak buruk gerontokrasi adalah terhalangnya mobilitas vertikal politik politikus generasi lebih muda. Tak mudah bagi politikus muda untuk menembus dominasi dan hegemoni pemegang gerontokrasi.
Akibat lebih lanjut adalah memunculkan otokrasi dalam partai. Di mana proses pengambilan keputusan strategis partai ditentukan satu dan atau segelintir orang yang berada di inner circle politikus senior dari partai tersebut. Apalagi model kepemimpinan partai di negara ini kadangkala menempatkan garis nasab sebagai salah satu penentu bagi seorang politikus untuk bisa merengkuh jabatan strategis di partai.
Pasca-lengser dari kursi presiden di tahun 2014, SBY lebih sering nyambangi kampung halamannya: Kabupaten Pacitan. Terlebih sekarang SBY memiliki ‘rumah baru’ di sana: Museum dan Galeri Seni SBY-ANI, yang lokasinya berada di jalan lintas selatan Jatim di Pacitan.
Museum ini memiliki gaya arsitektur klasik dan berdiri cukup megah, sehingga sangat representatif dipakai untuk menggelar pertemuan dan silaturahmi penting dan bernilai politik tinggi. Misalnya, pertemuan SBY dan Prabowo Subianto dan silaturahmi SBY dengan Anies Baswedan.
Fenomena politik penting dua kali pertemuan SBY dengan Prabowo dan SBY dengan Anies di Pacitan mengandung banyak manfaat bagi daerah ini di masa depan. Di antaranya, tingkat popularitas dan pengetahuan publik atas Pacitan makin paripurna, lengkap, dan luas.
Seiring dengan digelarnya dua kali pertemuan politik penting di Pacitan menjelang Pilpres 2024, perhatian dan sorotan media massa dan media sosial langsung diarahkan ke daerah ini. Tak menutup kemungkinan di masa depan, pertemuan politik serupa antara SBY dengan tokoh politik penting lainnya juga dihelat di daerah ini.
Makna politik lainnya adalah episentrum politik nasional dan dinamika yang melingkupi di dalamnya tak selalu dibicarakan dan diputuskan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Jejak histori sosial politik Indonesia kontemporer menunjukkan, sebelum SBY telah ada tokoh nasional lain yang tak jarang mengambil keputusan dan atau melakukan manuver politik penting di luar Jakarta. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di antaranya.
Gus Dur, mantan ketua umum PBNU dan Presiden RI ke-4 itu memiliki pilar politik yang kuat di daerah, terutama Provinsi Jatim. Ada institusi kultural bersifat informal yang memayungi kekuatan sosiologis dan kultural Gus Dur. Di kalangan komunitas Islam Tradisional (NU) di era Gus Dur dikenal adanya istilah kiai khos. Sebutan kiai khos atau kiai sepuh mulai santer terdengar semasa hidup Gus Dur. Yang mana keberadaannya turut andil dalam menentukan kebijakan Gus Dur, baik saat menjadi ketum PBNU, Ketua Dewan Syuro PKB, dan ketika menjabat presiden.
Para kiai khos ini merupakan figur pemimpin NU yang kharismatik dan mengasuh pondok pesantren (Ponpes) terkenal, pondok yang dipimpinnya berusia tua, punya jejaring sosial dan politik yang luas, ilmu keagamaannya (Islam) mendalam dan luas, kearifannya tinggi, menjadi sumber rujukan umat, dan pemimpin agama (Islam) di kalangan komunitas NU.
Cukup banyak kiai khos yang suara dan pandangannya selalu didengar Gus Dur. Di antaranya, KH Abdullah Abbas (Pondok Buntet Cirebon), KH Muslim Rifa’i Imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem, pimpinan Pondok Al Muttaqien Pancasila Sakti di Kecamatan Karang Anom, Kabupaten Klaten, Jateng.
Lalu KH Ilyas Ruhiyat, pimpinan Pondok Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar. Kiai Ilyas pernah menduduki posisi sebagai Rais Aam PBNU dan salah satu deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Di era KH Ilyas Ruhiyat menjabat sebagai rais aam, dia mampu membawa NU melewati masa-masa sulit karena menolak intervensi Orde Baru. Kiai Ilyas pernah pula menolak permintaan pemerintah yang memohon kesediaannya jadi anggota MPR demi menuntut independensi NU.
Dari Jatim, KH Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Langitan, Tuban, Jatim sangat diperhatikan pandangan dan nasihatnya oleh Gus Dur dan warga Nahdliyyin. Kiai Faqih adalah sosok kiai khos yang semasa hidup begitu dekat dengan Gus Dur. Kiai Faqih juga salah satu figur utama yang mendorong Gus Dur maju sebagai presiden. Majunya Gus Dur sebagai calon presiden sebenarnya banyak ditentang para kiai saat itu, namun KH Abdullah Faqih justru mengundang beberapa tokoh kiai sentral NU untuk membahas masalah itu.
Sejumlah kiai NU yang awalnya menolak pencalonan Gus Dur diundang untuk berembuk di Pondok Langitan Tuban. Hasil pertemuan yang digagas kiai Langitan itu akhirnya mendukung pencalonan Gus Dur maju sebagai capres yang didukung koalisi Poros Tengah: kaukus politik yang diinisiasi Amien Rais, Fuad Bawazier, dan banyak tokoh nasional lainnya setelah Pemilu 1999.
Episentrum politik nasional sekarang tak melulu Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Tak menutup kemungkinan kota-kota kecil lain di Indonesia jadi shohibul bait silaturahmi atau pertemuan politik penting secara nasional, seperti halnya Kabupaten Pacitan, Jatim. [air]
Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com







