Surabaya (beritajatim.com) – Tim medis Persebaya Surabaya menerapkan skema manajemen energi dan nutrisi khusus guna menjaga kondisi fisik pemain yang harus melakoni jadwal padat di tengah bulan Ramadan 1447 H.
Tim berjuluk Bajol Ijo tersebut dijadwalkan melakoni empat pertandingan krusial dalam rentang waktu hanya dua pekan, yang menuntut kedisiplinan tinggi dalam aspek pemulihan tubuh.
Rangkaian laga berat Persebaya dimulai dengan bertandang melawan Persijap pada 21 Februari, dilanjutkan laga kandang kontra PSM Makassar (25/2/2026), menjamu Persib Bandung (2/3/2026), dan diakhiri melawan Borneo FC pada 7 Maret mendatang. Jeda pertandingan yang hanya berkisar tiga hingga lima hari memaksa tim pelatih dan medis bekerja ekstra keras menjaga kebugaran pemain.
Dokter tim Persebaya, dr. Ahmad Ridhoi, menegaskan bahwa pengaturan asupan kalori dan cairan selama sahur serta berbuka menjadi prioritas utama. Penyesuaian pola makan ini sangat krusial agar para penggawa tetap mampu bertanding dengan intensitas tinggi meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
“Yang paling penting adalah manajemen energi. Saat Ramadan, pemain tetap berlatih dan bertanding dengan intensitas tinggi. Karena itu, kami atur pola makan saat sahur dan berbuka supaya kebutuhan kalori dan cairan tetap terpenuhi,” ujar dr. Ridhoi, Kamis (19/2/2026).
Selain urusan dapur, tim medis juga melakukan monitoring harian yang ketat mencakup pengecekan berat badan, kadar hidrasi, hingga kualitas tidur setiap pemain. Data-data tersebut menjadi dasar bagi tim pelatih untuk melakukan penyesuaian porsi latihan jika ditemukan indikasi kelelahan berlebih yang berisiko memicu cedera.
“Kami melakukan pengecekan rutin. Kalau ada tanda-tanda kelelahan berlebih, langsung kami komunikasikan dengan tim pelatih untuk penyesuaian program. Recovery jadi kunci. Jarak pertandingan yang mepet menuntut pemain cepat pulih. Jadi setelah pertandingan, kami maksimalkan pemulihan 24–48 jam pertama,” tegas dr. Ridhoi secara mendalam.
Manajemen energi yang terukur diharapkan mampu membantu Persebaya melewati fase krusial ini dengan hasil maksimal. Dengan perencanaan medis yang matang, tim medis optimistis performa skuat asuhan Bernardo Tavares tetap stabil meski menghadapi tantangan fisik yang lebih berat dibandingkan bulan-bulan biasanya. [way/ian]






