Surabaya (beritajatim.com) – Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika Alfiatul Sholihah (43) berdiri di depan gerbang SMAN 21 Surabaya. Ia datang dengan harapan bisa mendapatkan PIN pendaftaran sekolah untuk anaknya. Namun harapan itu pupus ketika seorang satpam menyampaikan bahwa antrean sudah habis sejak fajar.
“Katanya ada yang antre dari jam tiga pagi,” tutur Alfiatul, warga Kecamatan Sawahan, Surabaya.
Sudah dua kali ia pulang dari sekolah dengan tangan kosong. Dan perjuangan itu belum berakhir. Ia mencoba sekolah lain, SMAN 6 Surabaya, yang dikabarkan lebih sepi. Namun lagi-lagi, perjalanannya terhambat; surat kesehatan yang ia bawa tidak sesuai ketentuan. Harus dari puskesmas, bukan dari dokter umum.
Bagi Alfiatul, ini bukan sekadar urusan administrasi. Ini soal masa depan anaknya. Ia berharap anaknya bisa bersekolah di SMAN 21, yang masih satu kecamatan dan satu rayon dengan tempat tinggal mereka. Namun sistem zonasi, nilai rapor, dan indeks sekolah menjadi pertimbangan serius.
“Nilai anak saya rata-rata 92, tapi karena indeks sekolah, turun menjadi 89,” ujarnya. Ia pun menyiapkan rencana cadangan, dengan mendaftarkan anaknya ke SMKN 2 jurusan komputer dan jaringan.
Tingginya Animo, Panjangnya Antrean
Cerita Alfiatul bukan satu-satunya. Dalam dua pekan terakhir, ratusan orang tua menghadapi antrean panjang untuk mengurus pengambilan PIN Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025. Masalah muncul karena proses pengajuan PIN berbarengan dengan verifikasi dan validasi (verval) data dan dokumen yang wajib dilakukan langsung di sekolah.
Melihat kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Timur bergerak cepat. Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (TIKP) Dindik Jatim, Mustakim, menjelaskan bahwa jumlah rekomendasi sekolah tempat verval ditingkatkan dari lima menjadi sepuluh sekolah terdekat. Langkah ini diklaim berhasil mengurai kepadatan.
“Kalau ada 10 operator sekolah yang melayani, antrean bisa tinggal 5 orang saja. Sekarang beberapa sekolah sudah tidak lebih dari 50 antrean per hari,” ujarnya saat ditemui di Surabaya, Rabu (11/6/2025).
Berdasarkan data dashboard SPMB, SMAN 17 Surabaya pada Rabu siang telah menangani 21 dari 23 antrean. Di SMKN 1 Surabaya, 70 PIN berhasil diproses dari 69 antrean, sementara total PIN yang telah diverifikasi mencapai 1.331.
Bisa Dipantau Online, Tapi Masih Banyak yang Bingung
Untuk membantu masyarakat, laman resmi spmb.jatimprov.go.id kini menyediakan fitur pantauan antrean secara real-time. Cukup masuk ke menu informasi di pojok kanan atas, lalu pilih “Lihat PIN Terverifikasi dan Jumlah Antrean Harian”. Masyarakat bisa memantau sekolah mana yang ramai dan mana yang longgar antreannya.
Tak Ada Istilah ‘PIN Habis’
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa tidak ada istilah PIN habis. Sistem akan otomatis mengeluarkan PIN setelah verval dokumen dilakukan. Namun, keterbatasan pelayanan di sekolah sering membuat masyarakat panik dan rela antre sejak dini hari.
“Saya minta seluruh sekolah layani masyarakat kita dengan baik. Jangan dibatasi dalam verifikasi dan validasi berkas,” tegas Aries.
Proses verval sendiri memegang peranan penting dalam berbagai jalur penerimaan, seperti prestasi akademik dan domisili. Karena itu, kehadiran langsung calon murid dan orang tua sangat diperlukan untuk menunjukkan dokumen asli seperti KK, SKPD, rapor, ijazah, hingga surat kesehatan.
Dindik juga menegaskan bahwa dokumen tertentu, seperti SKPD, hanya sah jika diterbitkan langsung oleh Dinas Dukcapil. Dokumen dari RT, RW, atau kelurahan tidak berlaku.
Ribuan Petugas Disiagakan, Bantuan Bisa Dihubungi 24 Jam
Untuk mendampingi masyarakat, Dindik Jatim menyiagakan 7.155 personel helpdesk yang tersebar di satuan pendidikan, kantor cabang dinas, hingga kantor pusat Dindik Jatim. Selain itu, tersedia pula call center dan aplikasi chatbot Senopati AI yang bisa diakses 24 jam.
Bagi calon murid atau orang tua yang masih bingung, Aries mempersilakan mereka datang langsung ke kantor Dindik Jatim di Jagir Sidosermo V, atau ke SMA/SMK terdekat untuk berkonsultasi.
Di balik setiap antrean yang melelahkan, tersimpan harapan besar agar anak-anak mereka mendapatkan tempat terbaik untuk menggapai masa depan. [ipl/suf]






