Bojonegoro (beritajatim.com) – Elf memuat rombongan keluarga dari Kabupaten Bojonegoro kecelakaan tunggal di tikungan roller barrier Jalan Tembus turut Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Dalam kecelakaan tunggal itu, mobil Elf bernomor polisi S 7530 A terguling dan menyebabkan 19 orang penumpangnya luka-luka. Rombongan saat itu melaju dari Tawangmangu menuju arah pulang. Namun, di tengah perjalanan terjadi kecelakaan pada Rabu (5/7/2023) siang.
Peristiwa itu ada yang menghubungkan dengan mitos berkembang di masyarakat. Mitos itu menyebutkan warga Bojonegoro harus berhati-hati saat memasuki kawasan sekitar Gunung Lawu di perbatasan antara Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dengan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Mitos tersebut bahkan sangat populer di kalangan para pendaki. Gunung Lawu dianggap sebagai gunung yang mistis dan cukup sakral karena menyimpan cerita mengenai keberadaan Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V.
Prabu Brawijaya V pada 1400-an Masehi diceritakan pernah beradu kesaktian dengan pimpinan pasukan dari Bojonegoro dan Cepu. Namun, pimpinan dari dua wilayah tersebut kalah dan tumbang.
Hingga kemudian, ketika Majapahit mulai runtuh, Prabu Brawijaya bertapa di Gunung Lawu dan dikejar-kejar Adipati Cepu.
BACA JUGA:
Kecelakaan Elf di Magetan, Tak Ada Korban Jiwa, Begini Pengakuan Sopir
Puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah ditengarai menjadi pertapaan Prabu Brawijaya V saat dikejar pasukan Adipati Cepu dan akhirnya moksa. Kejaran Adipati Cepu membuat Prabu Brawijaya V hingga mengucap sumpah karena sakit hati.
Sumpah itu isinya melarang seluruh keturunan Adipati Cepu maupun orang dari Bojonegoro naik ke Gunung Lawu. Sampai saat ini, masih ada yang meyakini mereka yang melanggar akan mendapat celaka.
Keberadaan Prabu Wijaya di Gunung Lawu ditandai dengan adanya batu nisan yang dipercaya sebagai petilasan. Penduduk sekitar menyebutnya Sunan Lawu. Tempat itupun dikeramatkan hingga kini.
Salah seorang pendaki asal Kabupaten Bojonegoro Rachmad mengaku beberapa kali melakukan pendakian ke Gunung Lawu. Namun, ia meyakini bahwa niat baik dan menjaga perilakunya saat mendaki gunung ini yang juga mempengaruhi keselamatan. Terlepas dari peralatan yang juga penting untuk diperhatikan.
“Saat melakukan pendakian memang harus menata niat dan menjaga etika di gunung,” ujarnya, Sabtu (8/7/2023).
BACA JUGA:
Elf Terguling di Jalan Tembus Sarangan Magetan, Begini Kondisi Penumpang dan Sopir yang Dirujuk
Dia menegaskan, dalam melakukan pendakian ini penting untuk menjaga sikap karena berada di daerah orang lain. Sehingga tidak menyinggung maupun membuat sakit hati tuan rumah. Sementara, adanya mitos yang berkembang di masyarakat itu tergantung kepercayaan masing-masing.
Sementara kecelakaan rombongan keluarga itu juga usai melakukan wisata di daerah Gunung Lawu. Saat ini semua korban yang sempat mendapat perawatan medis sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. [lus/beq]






